Bagaimana Diskonan Bisa Menyeleksi Teman

Clickbait doang. Sebenarnya ngga seekstrem itu, sih. Tapi ada betulnya juga.

——-

Jadi, semenjak mencoba berdagang kecil-kecilan saya jadi merasakan banget apa yang teman-teman pebisnis tangguh saya rasakan. Sebagai orang yang berbisnis karena kebutuhan dan bukan kesukaan apalagi ketertarikan, rasanya semakin berat kalau ada kerikil kecil yang bikin tersandung.

Namun, sesungguhnya berjualan memang begitu. Ngga laku, bingung strategi marketing, terkadang jadwal bertabrakan dengan kerjaan lain dan istirahat, dan harga bahan-bahan yang dari awal udah mahal dan segala macam. Diberi harapan palsu sama calon pembeli mah sudah biasa. Namun, lebih sering yang membuat semuanya jadi dimasukin hati adalah kalau pelakunya teman sendiri. Awalnya sih begitu, tapi lama-lama sudah ngga sakit hati lagi, toh mereka juga punya hak, dan mereka ngga menolak dengan kasar atau menyinggung. Ini mah masalah saya yang terlalu sensitif.

Sayangnya, ada satu hal yang sampai saat ini sulit sekali untuk tidak bikin kecewa, dan itu ada hubungannya dengan perasaan dihargai. Yaitu hal yang berkaitan dengan “harga teman”.

Dan entah kenapa semakin ke sini semakin sering secara kebetulan dipertemukan dengan orang-orang yang pernyataannya semakin menguatkan perasaan saya untuk merasa berhak kecewa (agak aneh memang, tapi everyone is entitled to their own feelings, selama tidak mendiskriminasikan pelakunya, toh.)

Selain twit Oom Pinot di atas, saya juga dipertemukan dengan teman-teman dari Lokalogue yang secara berapi-api memberikan alasan kenapa kita patut kecewa kalau ada yang minta harga teman. Dan kenapa kita patut memberikan price list kepada teman yang meminta “bantuan” jasa kita.

Alasannya simpel. Apapun usaha kita, desain, menggambar, menulis, menerjemah, menjahit, kita telah sampai di titik ini bukan dengan mudah. Ada beribu-ribu jam yang kita habiskan untuk bisa sampai di sini, di mana kita cukup dipercaya untuk membantu mereka (atau bagi mereka suka dengan barang/jasa kita). Dan ada berember-ember keringat (hiperbola dikit) yang jatuh sampai kita bisa cukup percaya diri untuk menampilkan itu di muka umum. Dan ada perjalanan panjang yang cukup berat dilalui untuk kita akhirnya berani meyakinkan diri untuk melakukan ini.

Dan itu semua rasanya ditebas mati dengan kalimat “minta diskon dong, kan teman.”

Padahal, kita berekspektasi untuk teman kita menjadi orang yang paling menghargai, paling mengerti, paling rela untuk bayar kerja keras kita.

Rasanya tuh seperti saat belahan jiwa kita ngga bisa paham sama jalan pikiran kita. Rasanya aneh, dan kecewa.

Nah, ini terasa berbeda banget intensitas kecewanya saat ada orang asing yang minta diskon. Kecewa sih, tapi yaudah.

Dan ini datang dari berbagai jenis kalimat variasinya ya, seperti “mahal banget!”, “kok semahal itu?”, “ngga bisa diturunin kah?”, dan lain-lain yang esensinya sama. Tidak rela bayar lebih karena kan temenan, masa tega sih ngasih harga segitu? Padahal di dalam hati ingin berteriak, “Masa tega sih ke yang teman jualan susah-susah, hiks.”

Ya, tapi senangnya adalah sekarang sudah bisa meregulasi rasa kecewanya. Caranya, ya dengan bikin mental note aja mana teman yang beneran akan dengan senang hati diberi diskon di masa mendatang dan dengan yang tidak akan pernah dikasih diskon sama sekali, HAHAHAHA.

Ngga deng. Caranya ya dengan bikin mental note aja bahwa ada teman-teman yang memang mendukung, yang akan bisa kita minta pendapatnya, suportnya, kepercayaannya, dan ketulusannya di masa mendatang, dan mana yang ngga perlu diharapkan untuk menjadi tempat bersandar.

Dan saya setuju dengan kata-kata teman-teman di Lokalogue, kalau teman sejati, akan membayar dengan harga teman yang sebenarnya, yaitu dengan dilebihkan. Mungkin ngga harus uangnya, tapi doanya, promosinya, rekomendasinya, dan suportnya. Itu juga udah cukup kok bikin merasa disayang dan dihargai. Dan itu menyenangkan sekali.

Mungkin kesannya bagi beberapa orang manja banget ya kok pengennya dihargai terus dan dimanja, tapi kan saya cuma minta ini ke teman-teman saya aja. Bukan ke Anda, wahai orang asing. Dan memang, kalau memang tidak saling menghargai, itu bukan teman, tetapi netizen.

Begitulah.

PS. Tulisan ini bukan dibuat sebagai upaya memaksa teman-teman saya yang baca untuk beli brownies Origin, brownies terenak se-Indonesia Raya (Instagram-nya @origin.pastry) atau minta dilebihkan bayarnya atau promonya. Tulisan ini dibuat karena resah dan gelisah saja. Bagaimana Anda mempersepsikannya, itu hak Anda, kok 0:)

Iklan

The Love That Did Not Touch Me

Yesterday I ended a somewhat relationship with a man I met two months ago. It was a really short time, one might think, to decide that he isn’t the one, since it takes quite a while to get to know somebody deeply. But is it, though?

Some couples get married after a short amount of time together and actually last for a lifetime. Some others had been together almost half their life and split up in the end. So, there is no exact formula for this kind of thing, it seems. Yet, I worry still, but I do not know why or what about is it I worry.

For a person who has never been in love before, or at least who has never been sure if it was love at all, I do not know what it is like and how it should make us feel. All I know is that, once, I had been hung up on a guy, head over heels smitten, yet I knew if I were to grow up without him by my side, I’d be okay. I expected, wished it, even. On the other hand, I had also interacted with some friend of mine whose company I enjoyed so much I thought I’d keep him until the end of time, yet I never held any physical attraction towards him. At times I wonder if the latter had been love, but when he left, or when I knew he didn’t quite hold the same impression of me, I had been alright, and it was very easy to erase that picture of him on my older days beside me and replace it with Eddie Redmayne, some other friends I like the company of, or with nothing at all. I did not regret.

On my younger days, I had a terrible crush with whom I thought was my first love ever. Physical attraction, check. The wish to grow old with him, check. Only that he did not know I existed. And so, what I deemed was love was mostly days of despair and loneliness, instead of an infatuation room decorated with flowers and balloons and ballroom dancing. If it were so full of suffering, had it been love?

(Of course, when I look back, he was not an eligible candidate for being somebody anyone would grow up and old with. But I did not know that.)

Yet, this man who I just ended things with, claimed to have fallen in love with me from the first day we met. He told me he felt a certain kind of peace and serenity when he saw me, which I thought was a sign of me being his one, his lost rib. But queerly, I did not feel anything at all. Not for one second was I attracted to him, even though he was kind, patient, hardworking, and he had a vision of where he wanted to be in life (albeit unexciting), and he was sort of good looking as well. But I did not feel anything at all. Instead of the serenity he felt, when he came to me, I had always been uneasy; restless; unsure of life. So, I thought, if I was his one, his soulmate, the girl he had been looking for all his life, why wasn’t he my one, my soulmate, the person I had been looking for all my life? Is the concept of The One a one-way street? Shouldn’t it be two people finding each other, instead of one finding the other, yet the other feels so lost and insecure?

When he met me, he became more sure of life. When I met him, my life became more of a mystery, and not in a great sense either. I was terribly unhappy for the two months I knew him, because I was so afraid for my future; thinking from that moment on, I had to wake up with somebody I did not enjoy the company of, somebody I did not find interesting, somebody I was not attracted to at all, but somebody who loved me deeply and instantly, for the first time in my life, without conditions. And yet, even if he tried to fulfill the conditions I held for him to be my love, I could not love him for a bit. Did he truly love me, then? Did I love him also, but the twisted kind of love, the love which makes one so shaken and unsure of everything? If that was the case, can love really be so horrible?

My idea of love in a soul mate is so specific that I thought he didn’t qualify any of it, in which I did qualify for him. That in the presence of love, one feels serenity, compassion, selflessness. That it makes one’s anxiety and worries regarding the future vanish, while acknowledging that it will be a rocky road ahead. That with the blossom of love, life becomes pink-colored, yellow, blue, green, turquoise; iridescent. That with love, the relationship, despite being a hard one, will feel easy and lighter to walk on. And fundamentally, love grows us; it launches us into things we were always afraid to be; it does not hold us back. In the presence of love, we become the best version of ourselves.

And with that concept, which I did not find in him but he perhaps found in me, makes me wonder if there was an error in destiny, a glitch in the universe. Did our faulty roads cross because there has been some mistaken shift in the cosmos? To which he found me, when I felt I’ve lost a lot of possibility in my life. To which when I let go of him I felt life brighter, when maybe he felt he had lost his other half: is there some kind of error in the course of fate?

But is it possible?

I had been uninspired for the last year, but when he came into my life, I expected things to change. And they did change, only that it was in the way that I had become terribly stone-like in the heart and the mind. Which was atypical of me. I had become something that is of course me, but the worst sort of me that I had ever since fought tooth and nail not to become again.

But it wasn’t his fault. It was only because he was not right for me. And now I suspect that I was not right for him either, he just thought so, because he was in love with an illusion that chased him out of his nightmare. He was not in love with me.
I can say that for sure.

All while I still don’t know what love is like.

I guess, most of the time in life, we can know for sure what one thing definitely isn’t, while still searching for the ultimate answer of what one thing is, essentially. And for me, love matters is one that is rock solid in this category.

Maybe what I worry about is that I’ve expected too high from love, that in the future I will never encounter it again, in the form that I want it to be. I worry that after this decision, not even the love that I think I don’t deserve will present itself to me. I worry that maybe, this was the love I deserve, and nothing more.

I know, this sounds like a weak faith, if my friend would say, as if I have no roots whatsoever in my own belief. But, even so, I have realised that adulthood means doubting yourself and your views of the world, of the decisions you have made, from time to time, and feeling like we want to go back to the moment where we could choose otherwise. Doubts if you have made the right choice, only because you can not tell where that very decision takes you. And that is very normal. Everyone goes through it. The question is, how often and how chronically does one experience it?

Well, maybe, I do have a weak faith.

“He found you lost and guided you.” (Ad-Dhuhaa:7)

But there will be Him who will make me strong and find me, even deep in the jungle no man has ever been before.

Seandainya Saya Pohon

Sudah Juni. Sebentar lagi saya dua puluh empat dan saya hanya pernah setersasar ini saat masa transisi dari anak-anak ke remaja. Apakah memang masanya?

Saya memutuskan untuk menulis di kanvas ini karena di ruang pribadi sekarang saya merasa kesulitan untuk menemukan kata-kata. Lagi dan lagi, seperti ini.

Apakah ada hidup tanpa rasa sakit?

Teman saya bilang saya selalu jatuh dan jatuh karena saya kurang beriman, atau lebih tepatnya ia katakan saya beriman pada Tuhan yang salah. Saya tidak tahu harus merasa apa, mengingat hal seperti ini sering diajukan waktu saya masih bergelut dengan Winter Lily. Namun, untuk menjadi rendah hati, mungkin dia benar bahwa saya kurang teguh memegang sesuatu. Saya bingung dalam memijakkan kaki.

Namun, saya lihat ada teman saya yang memiliki pijakan terkokoh yang tidak pernah saya lihat lagi pada diri orang lain jatuh ke dalam perangkap yang sama.

Dan ada teman saya yang lain dengan hidup yang sepertinya stabil pun sangat gelisah, tiba-tiba, terhadap dunia dan dirinya.

Lalu, ada teman saya yang lain yang lain yang juga tidak kokoh mengakar di tanah terbawa angin, tidak bisa memilih jalan hidup. Atau lebih tepatnya, tidak tahu jalan apa saja yang tersedia untuknya. Atau, apakah dia harus terus berjalan atau tidak.

Krisis seperempat abad.

Meskipun saya masih sekitar satu setengah tahun lagi akan mencapai titik seperempat abad, tapi krisisnya telah dimulai. Mungkin namanya lebih baik diganti menjadi Krisis Lebih-kurang Seperempat Abad.

Dulu, waktu saya sedang bergeser menjadi seorang dewasa muda, saya punya begitu banyak cita-cita dan saya yakin ke mana akan melangkah, meskipun saya juga tersesat. Sekarang, yang tersisa hanyalah rasa tersesat itu.

Dulu, saya ingin menulis dan menulis dan menulis. Sekarang, saya tidak bisa, bahkan untuk berpikir ingin menulis.

Dulu, saya membaca dan membaca dan membaca dan membaca karena ingin memecahkan misteri dunia, misteri kehidupan. Sekarang, saya tidak bisa segetol dulu. Sekarang, saya tahu bahwa sebanyak apa pun, dunia terlalu luas dan dalam untuk kita benar-benar mendapatkan rasa keterarahan, dan semuanya semu.

Dulu, optimisme adalah kawan. Sekarang, untuk menyalakan lilin rasanya berat.

Dulu, saya tau B, orang yang saya cari setengah mati, ada di suatu tempat di dunia ini. Sekarang, saya tidak yakin sama sekali.

Dulu, saya ingin menyayangi dan disayangi tanpa syarat. Sekarang, syarat-syarat tersebut semakin bertambah dari hari ke hari.

Lalu, apa yang sebenarnya saya mau?

Saya tidak iri melihat orang lain menikah, menemukan cinta, memulai mimpi. Saya sama sekali tidak tergerak. Saya berubah tidak percaya cinta itu ada.

Dan dengan ini saya sadar bahwa entah sejak kapan, saya telah berubah menjadi batu.

Tidak bergerak dan tidak tergerak. Tidak punya perasaan, tidak punya pikiran. Tidak punya nyawa. Tidak memiliki jiwa.

Seandainya saya ini pohon….

Komunikasi Efektif dengan Orang yang Genting Bunuh Diri

Jadi, media sosial sedang ramai dengan topik seorang bapak yang bunuh diri secara live di Facebook. Banyak sekali yang berkomentar dan memberi opini, bahkan sampai menasihati si Bapak yang udah telanjur meninggalkan dunia ini bahwa bunuh diri itu dosa (efektif banget, ya). Sebagian ingin menolong, tapi tidak tahu caranya. Sebagian lagi hanya ingin bersuara (misalnya dengan berantem tentang etis atau tidaknya memberikan siraman rohani kepada orang yang dalam proses bunuh diri). Perbedaan opini ini wajar, mengingat belum luasnya pengetahuan mengenai hal darurat semacam bunuh diri.

Oleh karena itu, untuk menyamaratakan pengetahuan yang mungkin belum didapatkan, saya ingin berbagi mengenai kenapa memberi nasihat kepada orang yang sedang di ujung tanduk untuk bunuh diri tidak efektif. Mudah-mudahan, pada akhirnya, bisa membantu mencegah. Minimal, bisa membantu kita lebih bijak dalam berkomentar.

Jadi, salahkah jika kita mengingatkan seseorang yang ingin bunuh diri terhadap dosa dan nilai-nilai agama? Tidak salah, tetapi juga tidak tepat. Itu adalah reaksi wajar bagi kita yang merasa tidak pernah bunuh diri karena kita beragama, sayangnya reaksi tersebut juga tidak tepat karena orang yang bunuh diri tidak berada dalam posisi yang sedang ingat agama.

Dalam ilmu NLP, ada yang namanya gelombang alfa, yaitu gelombang otak yang membuat seseorang merasa relaks dan fokus, sehingga sudut pandang orang tersebut menjadi sempit dan tidak menyadari hal-hal lain di sekitarnya. Seseorang yang berada dalam zona alfa ini sangat mudah dipengaruhi (bahasa kontemporernya: disugesti) oleh orang lain. Itu sebabnya hipnosis dilakukan pada orang-orang yang berada dalam gelombang ini (dalam kasus kriminal ya, kalau dalam kasus terapi biasanya kliennya dibuat masuk ke dalam gelombang tersebut). Contoh orang yang sedang dalam gelombang alfa adalah orang yang sedang beribadah dan meditasi–relaks dan terbuka terhadap inspirasi dan wahyu. Namun, contoh lainnya yang lebih berbahaya adalah orang yang sedang terpreokupasi dengan keinginan bunuh diri.

Secara neurolinguistik, otak kita lebih sulit memroses kata-kata negasi dibandingkan afirmasi dan netral, sehingga “tidak” dan “jangan” lebih sulit dicerna ketimbang “silakan” dan “makan”. Bayangkan seseorang yang otaknya berada dalam gelombang alfa–terfokus, relaks, mudah dipengaruhi–ditepuk dan diberitahu untuk “jangan kasih saya duit”. Kemungkinan besar, ia akan memberi Anda duit. Hal ini pun berlaku bagi orang yang sedang akan bunuh diri.

Orang yang akan bunuh diri sedang berada dalam keadaan terfokus untuk menghilangkan rasa sakitnya (fakta: kebanyakan orang yang bunuh diri tidak menekankan kepada kematian itu sendiri, tetapi kepada penghilangan rasa sakit, meskipun itu berarti dirinya pun harus hilang). Artinya, pandangannya menyempit dan energinya terpusat pada satu hal tersebut, seperti orang bermeditasi ringan. Dalam kondisi seperti ini, otaknya tidak bisa memroses informasi-informasi kompleks; hal-hal berat ini tugasnya gelombang beta. Dan, dalam gelombang alfa, otak menjadi lebih efektif mencerna kalimat-kalimat pendek dan afirmasi/netral. Inilah kenapa nasihat, penekanan nilai-nilai moral, dan dakwah tidak efektif mencegah orang yang bunuh diri, sedangkan kata-kata seperti “jangan lompat” justru terserap oleh orang tersebut. Sayangnya, kata “jangan” ditolak oleh otak, sehingga yang ia dengar hanya sebuah dorongan “lompat”. Maka, lompatlah ia.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan? Bawa dia kembali ke gelombang beta, gelombang kesadaran dan pikiran kritis. Bukan dengan memberi nasihat, apalagi yang bertele-tele, tetapi dengan pertanyaan singkat seperti, “Gimana kamu akan melakukannya?” atau “Berapa 4×9?” Pertanyaan, apalagi yang janggal seperti yang terakhir, akan membuatnya terdistraksi, minimalnya, “Kenapa nanyain perkalian?” Dengan ia mulai bertanya kepada dirinya, ia telah menjauh dari gelombang alfa.

Setelah ia sadar, tanyalah lagi hal-hal yang bisa membuatnya semakin berkonsentrasi dengan pikiran sadar. Alihkan fokusnya. Kalau ia sedang berdiri di pinggir bangunan untuk melompat, terus ajak bicara sampai kita menjadi cukup dekat dan bisa meraihnya untuk menjauh dari tepi.

Terkadang kita merasa segan untuk menolong karena berpikir “Dia ingin bunuh diri, terus masa aku ngelarang?” Percayalah, orang-orang yang melakukan usaha bunuh diri di muka publik atau memberi tahu seseorang berarti mereka sedang mencari pertolongan dan ingin dihentikan. Hal ini juga berlaku untuk orang yang belum di ambang bunuh diri, tetapi berkali-kali memberi kode bahwa ia sedang berpikir untuk bunuh diri. Alih-alih menyalahkan, kita bisa berusaha melakukan sesuatu: mengalihkan perhatian, menjauhkan dari senjata bunuh diri, atau cari tau keberadaannya. Jika kita tidak bisa melakukannya sendiri, minta bantuan orang lain–telepon orang yang ahli, panggil ambulans/polisi/psikiater, atau minta tips ke orang-orang yang tau.

Ingat, berkata “Coba pikir, kamu masih muda, masa depanmu masih bisa berubah, ada pelangi setelah hujan, kamu harus bertahan” bukanlah tindakan yang tepat. Itu adalah sebuah tantangan yang bisa mengagitasi. Apalagi “Coba gantung dirimu kalo berani!” kan…. Berusahalah untuk tidak provokatif ya….

Beberapa cara untuk mencegah tindakan bunuh diri orang tersayang kita, di antara lain, adalah dengan membicarakannya secara terbuka. Tunjukkan padanya bahwa kita memang peduli dan ingin ia untuk tidak meninggalkan kita. Cobalah berempati, dengarkan tanpa dipotong dengan nasihat. Meskipun kita tidak mengerti rasanya, yakinkan bahwa kita bersedia diajak bicara. Jangan katakan kita paham rasanya, termasuk jika kita pernah berada dalam posisi tersebut. Jangan berargumen dengannya, misalnya mengatakan bahwa bunuh dirinya hanya akan membuat keluarganya bersedih. Ia sudah sangat bersedih, tidak perlu menanggung rasa bersalah lagi.

Terakhir, di Indonesia ada beberapa jalur yang bisa dihubungi untuk membantu Anda atau orang yang Anda sayangi:

* Pencegahan bunuh diri:

(021)7256526, (021) 7257826, (021) 7221810.

* Hotline konseling masalah kejiwaan Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes RI:

500-454

Perlu diingat bahwa kita tidak harus menyelesaikannya sendirian. Ada orang-orang di dunia ini yang bisa membantu kita untuk mengatasi keinginan bunuh diri, baik keinginan kita sendiri atau orang lain. Jadi, hubungi saja mereka.

(Sumber: pelatihan NLP, pengalaman pribadi, beberapa situs pertolongan bunuh diri, dan Wikipedia nomor darurat di Indonesia)

The Null Hypothesis of A Comfortable Life

Last week I finished a book that didn’t disappoint, Kalamata by Ni Made Purnama Sari. On reading it, I’ve found that we are quite similar, she and I, especially on how we feel and see the world to be revolving around ourselves. I guess she might be another INFP, looking at how much she likes to peer into her microcosm (even though I don’t care for MBTI anymore, these days.) Despite the annoyance at the resemblance, I found a question she herself might really ponder, slipped within the book, that I am paraphrasing here: “How come a person who has everything in the world and can get everything easily, as she was born into a financially fortunate family, thinks she’s suffering so much just because she’s sweating little things that shouldn’t even bother her?”

By that one paragraph, I was aroused and triggered.

I, for one, had also been lucky enough to be born into a family that is fairly happy and well off financially. I thank God everyday that both my parents are alive and well, that we have what we need and can sometimes afford some things we want, that we aren’t a broken family, and that we love and stand by each other. I am lucky that my brother and I are the best of friends, and that my mom and I are getting along more by the days after some long cruel years being irritated by one another, and that my father and I are opening up more as we grow up and old. I realize that not everyone has that. Some people live in a constant drama, not in a way that it is made up, but in a way that it is the reality of their lives. I am grateful that my nuclear family doesn’t get sucked into other people’s dramas, even though there have been countless times that people tried. So, yes, by that standard, you might think I am living comfortably and without troubles that can turn my world into rubbles.

Well, that’s how people can be wrong.

Baca lebih lanjut

Tahun Vivere Pericolosamente

Enouement

Tahun 1964, setahun sebelum G30S terjadi, Bung Karno menjadikan “Tahun Vivere Pericoloso” sebagai judul pidatonya pada peringatan hari kemerdekaan RI ke-19. Seperti yang diketahui masyarakat pada saat itu, Bung Karno memang sering mengambil berbagai istilah aneh dari beragam bahasa, dan untuk tahun tersebut, ungkapan ini diambilnya dari bahasa Italia. Vivere berarti hidup, pericoloso berarti berbahaya. Secara makna pun tidak berbelit-belit: hidup yang berbahaya. Baginya, di tahun ke-19, Indonesia harus terus berjuang dalam semangat revolusi untuk terus berkembang, yaitu dengan cara berani–berani hidup berbahaya. Karena, tidak ada kemenangan yang dicapai tanpa perlawanan dengan rasa takut, toh.

Konsep ini pula yang saya ambil untuk panduan hidup tahun ini, tapi dengan tata bahasa yang lebih baik, karena secara gramatika “tahun vivere pericoloso” itu keliru, yang benar adalah “tahun vivere pericolosamente“. Jadi, tahun ini memang saya canangkan kepada diri sendiri sebagai tahun untuk hidup dengan berbahaya, dengan berani, dengan melawan rasa takut. Hal ini sebagai follow up analisis tahun lalu, sebagai believer of personal evolution, ada tahap-tahap yang harus dilalui untuk terus-menerus berevolusi secara batin.


EVOLUSI PERSONAL

Membahas sedikit mengenai evolusi pribadi, tahun lalu saya merumuskan bahwa sebagai pribadi, ada tiga tahap yang diperlukan untuk terus berkembang: resolusi, revolusi, evolusi. Dalam bahasa Inggris, resolution adalah keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Selama dua tahun lalu, saya telah melakukan ini: saya memutuskan untuk menjadi lebih bahagia dan melepaskan diri dari zona nyaman saya–distimia. Lalu, tahun ini saya melompat ke tahap kedua, revolution; sebuah perubahan dramatis dan luas terhadap sikap, kondisi, dan cara bekerja. Revolusi ini harusnya menyasar hal yang sangat mendasar yang selalu menjadi masalah; bagi saya salah satunya adalah relationships. Sampai saat ini, saya merasakan bahwa saya telah cukup berevolusi, berubah perlahan-lahan ke level yang lebih superior, tetapi untuk dianggap telah berevolusi secara utuh, saya masih butuh memparipurnakan revolusi tahun ini di tahun depan.

Baca lebih lanjut

Dracarys: Project Relationship Progress Report

This time is different. This time I don’t want a relationship because I am lonely or desperately need somebody to prove my worth. No.

Over the last years I have grown so much. I have been in hypothetical places I’d never thought I’d be. I have been in different heights, worn different sorts of clothes, seen the world through different filters of glasses, and I have learnt from everyone of them. I have outgrown my expectation, as well as underestimated my own capability. I have reached out to various corners of my heart, albeit not all of them. I have swept some dust under the rug for my own well-being. I have changed. I have been all kinds of Indiena in such a short period of time.

Baca lebih lanjut

“Kerja di Mana?”

Saya ingin merintis, menciptakan, dan berkarya. Saya pikir bekerja sebagai bawahan dan atasan sudah tidak pada zamannya lagi. Saya memang perlu uang, tetapi mati-matian mencari uang sampai hampir mati pun buat apa. Jika memang ada jalan yang bisa diusahakan untuk mendapat uang dengan menebarkan manfaat, kenapa tidak?

Memang, seperti yang pernah saya baca di salah satu jurnal untuk penelitian tingkat sarjana, orang Asia lebih menyukai stabilitas. Kita lebih senang jika tau kita akan dapat gaji berapa bulan ini, bisa makan berapa kali sehari, dan mengerjakan apa saja dari hari ke hari. Namun, saya tidak merasa berada di dalam lingkaran tersebut. Saya senang ketidakpastian. Lebih tepatnya, saya sangat menikmati sebuah proses. Destinasi itu penting, tetapi perkembangan diri dalam mencapai tujuanlah target yang sebenarnya. Oleh karena itu, saya terganggu setiap kali ditanya, “Kerja di mana?”

Kenapa harus kerja di mana? Kenapa tidak bertanya “Kerjanya seperti apa?” atau “Sedang mencoba mencapai target apa sekarang?” Menurut saya, pertanyaan tersebut lebih mudah dijawab, karena pertanyaan yang awal menuntut gambaran tentang uang, yang belum tentu apa yang sedang saya kejar menjanjikan itu. Menghasilkan duit adalah tujuan yang realistis, saya pun mau. Tetapi, saya ingin bekerja di mana uang adalah sebuah bentuk penghargaan, bukan tujuan utama. Itu idealismenya. Saya berpikir, bahkan sampai saat ini, bahwa membiarkan realisme dan idealisme berjalan beriringan adalah hal yang sangat sulit, apalagi untuk orang seperti saya. Tetapi, sangat sulit bukan mustahil. Pasti ada cara. Hanya saja, berapa lama waktu yang dibutuhkan?

Baca lebih lanjut

Okupasi Kematian

Dulu sekali saya pernah terobsesi dengan kematian. Tidak ada detik yang terlewati tanpa kata tersebut bergema di dalam pikiran. Begitu penuhnya hati saya diisi oleh hal-hal berkenaan dengan mati, sampai-sampai berita kematian orang-orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan saya membuat saya merasa bahwa Kematian sedang memburu saya.

Anehnya, semakin besar volume Kematian memenuhi, semakin tidak ada hal yang bisa saya tuliskan mengenainya. Saya pikir jika suatu hal berdiri tak berjarak dari kita, hal tersebut tidak mungkin untuk diamati dengan seksama. Tentu Anda paham bahwa menulis memerlukan pengamatan, sehingga tulisan mengenai kematian tidak pernah tercipta sampai saat pikiran mengenai kematian itu sendiri telah berdiri di tempat yang agak jauh.

Akhir-akhir ini saya kembali dikelilingi oleh topik seputar kematian. Diingatkan, lebih tepatnya. Namun, meski Kematian tersebut sebenar-benarnya hadir lebih dekat dari yang pernah saya bayangkan, obsesi yang pernah ada tidak kembali, sehingga mungkin saja Kematian sedang berdiri di pundak saya, tetapi ia tidak sampai masuk ke dalam hati mengambil ruang. Hal ini menyebabkan saya bisa bercerita mengenainya. Sebuah surat cinta yang terlambat sekian tahun, ditulis bukan karena saya masih tergila-gila, tetapi justru untuk menuangkan segala hal yang pernah melintas yang berkaitan dengannya.

Baca lebih lanjut

Into The Time Capsule: A Letter To You, The Overwhelmed Parent of A Soon-To-Be Grown-Up

To You,
who is  overwhelmed enough to browse through this pile of memories,

 

It’s easy to forget that your children will shortly grow into their own people. When that happens, you will no longer know everything about their life, interests, love, fears, hopes—about what truly makes them as a person. They will hide secrets from you, not because they do something wrong or intend to leave you out, but because every person has privacy. You will not be able to drop them to classes (or even know fully what classes they are taking!). They will be half a mystery. And then you fear they will forget you. Leave you out entirely, as if their lives wasn’t built on something you have given wholly, unconditionally. But it’s not true. They still think of you, maybe in hardships, late nights, or even later in their lives, but for now when it’s time for them to see and experience the world, give them the permission to do it.

If you think about it, it’s probably the same as them not knowing who you really are. The difference is that you didn’t come out of them. But as somebody who were once the whole world for them, you have always been more than half a mystery to them. You might have told them stories from your younger days, but stories consist of memory (which we all know too well are mostly changed, erased, or fabricated) and your own desire to right the wrong. They weren’t there to see you screw up, and they weren’t there to see you grow up. Yes, you told them stuff—lessons, mostly, but it’s not the same as watching you do it. You don’t really tell them the whole story about your love life (not looking at you, Ted Mosby), and you didn’t tell them about the mediocre days, where you slept the whole day not doing anything productive. So, to be fair, you are a lot more mysterious to them.

But, here’s what’s interesting: they have never felt like they have lost you from the beginning. They might have never thought about it that way, anyhow. They made do with what was given—the You with all the scars and blooms, not knowing why they exist and for what.

It’s now time to do it the other way around: to make do with what will be taken away by default—their growing up into their own people with all the scars and blooms. And you don’t really have to know why they exist and for what. If they can go through their whole life up till now not knowing the beginning (the very miracles that brought them to the world), at least you can try to go through some part of your life not knowing the whole ending.

We all should accept.

 

 

Bandung, 8 April 2016
Young Indiena,
who is overwhelmed enough about everything to remind You of this