Seandainya Saya Pohon

Sudah Juni. Sebentar lagi saya dua puluh empat dan saya hanya pernah setersasar ini saat masa transisi dari anak-anak ke remaja. Apakah memang masanya?

Saya memutuskan untuk menulis di kanvas ini karena di ruang pribadi sekarang saya merasa kesulitan untuk menemukan kata-kata. Lagi dan lagi, seperti ini.

Apakah ada hidup tanpa rasa sakit?

Teman saya bilang saya selalu jatuh dan jatuh karena saya kurang beriman, atau lebih tepatnya ia katakan saya beriman pada Tuhan yang salah. Saya tidak tahu harus merasa apa, mengingat hal seperti ini sering diajukan waktu saya masih bergelut dengan Winter Lily. Namun, untuk menjadi rendah hati, mungkin dia benar bahwa saya kurang teguh memegang sesuatu. Saya bingung dalam memijakkan kaki.

Namun, saya lihat ada teman saya yang memiliki pijakan terkokoh yang tidak pernah saya lihat lagi pada diri orang lain jatuh ke dalam perangkap yang sama.

Dan ada teman saya yang lain dengan hidup yang sepertinya stabil pun sangat gelisah, tiba-tiba, terhadap dunia dan dirinya.

Lalu, ada teman saya yang lain yang lain yang juga tidak kokoh mengakar di tanah terbawa angin, tidak bisa memilih jalan hidup. Atau lebih tepatnya, tidak tahu jalan apa saja yang tersedia untuknya. Atau, apakah dia harus terus berjalan atau tidak.

Krisis seperempat abad.

Meskipun saya masih sekitar satu setengah tahun lagi akan mencapai titik seperempat abad, tapi krisisnya telah dimulai. Mungkin namanya lebih baik diganti menjadi Krisis Lebih-kurang Seperempat Abad.

Dulu, waktu saya sedang bergeser menjadi seorang dewasa muda, saya punya begitu banyak cita-cita dan saya yakin ke mana akan melangkah, meskipun saya juga tersesat. Sekarang, yang tersisa hanyalah rasa tersesat itu.

Dulu, saya ingin menulis dan menulis dan menulis. Sekarang, saya tidak bisa, bahkan untuk berpikir ingin menulis.

Dulu, saya membaca dan membaca dan membaca dan membaca karena ingin memecahkan misteri dunia, misteri kehidupan. Sekarang, saya tidak bisa segetol dulu. Sekarang, saya tahu bahwa sebanyak apa pun, dunia terlalu luas dan dalam untuk kita benar-benar mendapatkan rasa keterarahan, dan semuanya semu.

Dulu, optimisme adalah kawan. Sekarang, untuk menyalakan lilin rasanya berat.

Dulu, saya tau B, orang yang saya cari setengah mati, ada di suatu tempat di dunia ini. Sekarang, saya tidak yakin sama sekali.

Dulu, saya ingin menyayangi dan disayangi tanpa syarat. Sekarang, syarat-syarat tersebut semakin bertambah dari hari ke hari.

Lalu, apa yang sebenarnya saya mau?

Saya tidak iri melihat orang lain menikah, menemukan cinta, memulai mimpi. Saya sama sekali tidak tergerak. Saya berubah tidak percaya cinta itu ada.

Dan dengan ini saya sadar bahwa entah sejak kapan, saya telah berubah menjadi batu.

Tidak bergerak dan tidak tergerak. Tidak punya perasaan, tidak punya pikiran. Tidak punya nyawa. Tidak memiliki jiwa.

Seandainya saya ini pohon….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s