Okupasi Kematian

Dulu sekali saya pernah terobsesi dengan kematian. Tidak ada detik yang terlewati tanpa kata tersebut bergema di dalam pikiran. Begitu penuhnya hati saya diisi oleh hal-hal berkenaan dengan mati, sampai-sampai berita kematian orang-orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan saya membuat saya merasa bahwa Kematian sedang memburu saya.

Anehnya, semakin besar volume Kematian memenuhi, semakin tidak ada hal yang bisa saya tuliskan mengenainya. Saya pikir jika suatu hal berdiri tak berjarak dari kita, hal tersebut tidak mungkin untuk diamati dengan seksama. Tentu Anda paham bahwa menulis memerlukan pengamatan, sehingga tulisan mengenai kematian tidak pernah tercipta sampai saat pikiran mengenai kematian itu sendiri telah berdiri di tempat yang agak jauh.

Akhir-akhir ini saya kembali dikelilingi oleh topik seputar kematian. Diingatkan, lebih tepatnya. Namun, meski Kematian tersebut sebenar-benarnya hadir lebih dekat dari yang pernah saya bayangkan, obsesi yang pernah ada tidak kembali, sehingga mungkin saja Kematian sedang berdiri di pundak saya, tetapi ia tidak sampai masuk ke dalam hati mengambil ruang. Hal ini menyebabkan saya bisa bercerita mengenainya. Sebuah surat cinta yang terlambat sekian tahun, ditulis bukan karena saya masih tergila-gila, tetapi justru untuk menuangkan segala hal yang pernah melintas yang berkaitan dengannya.

Sekitar sebulan yang lalu seorang teman, sebut saja O, datang kepada saya untuk menceritakan sebuah perpisahan yang disebabkan oleh kematian. Perpisahannya dengan sang ibunda. Ia berkata bahwa kematian tersebut masih menghantuinya, terutama mengenai prosesnya dan orang-orang yang terlibat. Bahwa beberapa lagu mengingatkannya pada sang ibu dan musim tertentu membawa yang telah mati kembali ke hati. Kematian yang terjadi dengan tanda-tanda, tetapi tidak cukup lama untuk bersiap melepaskan. Sekarang, yang pergi akan tetap pergi, tetapi apa-apa yang tertinggal tidak mudah untuk dibuang begitu saja. Teman saya O sedang berusaha berdamai dengan apa yang ditinggalkan–yang baik dan buruk, dan hal tersebut menjadi sulit karena ia berjuang sendirian. Ternyata, Kematian adalah sebuah ujung bagi yang mati, tetapi merupakan sebuah awal yang lain bagi yang ditinggalkan.

Cerita tersebut membuat saya bertanya kepada Ibu, apakah beliau lebih memilih pergi tiba-tiba atau dengan tanda-tanda. Saya tekankan bahwa dari kedua opsi, tidak ada pilihan yang dilalui tanpa rasa sakit. Beliau tidak bersedia menjawab; entah karena tidak ingin memikirkan bahwa ia suatu saat akan pergi, atau karena ia tidak ingin membayangkan rasa sakit tersebut. Sebenarnya, hal yang saya ingin tanyakan adalah apakah beliau lebih memilih untuk melihat orang-orang yang menyayanginya menderita melihatnya menderita atau ditinggalkan tanpa persiapan, yang juga membuat orang-orang yang menyayanginya menderita. Ketidakmauannya untuk menjawab membuat saya melihatnya bagai orang asing–saya jadi mempertanyakan cintanya dan dirinya.

Tetapi, di situlah saya, merasa terasing dengan ibu saya yang masih hidup dan sehat, sedangkan O di sana pernah merasa terasing melihat ibunya perlahan-lahan menjadi orang lain karena dimakan penyakit–ditarik kematian.

Tidak sampai seminggu kemudian, teman saya R menghubungi saya untuk mengatakan bahwa ia mungkin tidak akan hidup lama. Sebuah penyakit akan secara bertahap menghisap kehidupan dari tubuhnya, dimulai dari rambutnya yang rontok sampai jiwa yang pergi dari matanya. Sebuah pengakuan yang tidak mungkin tidak mengejutkan, meskipun pada saat itu, kematian masih berupa kemungkinan yang belum dipastikan.

Saya masih ingat bahwa secara selintas ia berkata, “Aku sih takut mati, sebenernya, tapi juga ngga takut mati.” Topik yang begitu berat di hati terpaksa saya lewatkan seolah saya tidak mendengarkan. Padahal, kalimat tersebut membuat saya terlempar kembali pada obsesi terhadap kematian yang dulu pernah saya alami. Mungkin berbeda, tapi saya tahu rasanya ingin mati dan menjadi begitu takut saat kematian rasanya sudah sampai di leher.
Pada saat R mengabarkan kemungkinan tersebut, saya hanya bisa berpikir bahwa meski benar atau salah perkiraan tersebut, saya hanya ingin menjadi teman yang baik.

Sebuah kabar yang tidak ia sampaikan pada sembarang orang membuat saya merasa mungkin dari awal ia telah menganggap saya teman yang cukup baik untuknya. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi seorang teman yang memiliki kemungkinan untuk ditinggalkan selain menjadi tempat berbagi yang baik. Kabar kematian bukan hal yang ringan. Hari itu, saya merasa begitu dekat dengannya dan begitu terbuka. Tetapi, tidak ada ruang untuk kesedihan, untuk imajinasi saya melanglang buana jauh ke depan. Yang ada hanya strategi praktis: buatlah kenangan, karena mungkin itu terakhir kalinya saya melihat ia sehat dan bahagia.

Besoknya, barulah saya uring-uringan seharian. Kesedihan yang terlambat datang. Saat saya konfirmasi ulang, R mengatakan bahwa ia baik-baik saja, sehat wal afiat. Entah seperti apa saya harus merasa dan berpikir. Senangkah, kagetkah, legakah–bohongkah dia?

Ternyata, seseorang mampu menutupi sebuah proses kematian karena tidak ingin membuat yang disayang menjadi menderita. Hanya saja, jika wajah kematian tersebut pada akhirnya menjadi sangat dekat dan tidak bisa disangkal, sebuah penyesalan karena tidak ada di samping sedari awal yang akan menghantui. Saya tidak bisa memutuskan apakah itu egois atau justru melindungi.

Di kelas Analisis Eksistensial, dosen saya pernah mengatakan bahwa untuk seseorang benar-benar merasa hidup, benar-benar menerapkan Eksistensialisme, ia harus menyadari bahwa Kematian selalu berada satu jengkal dari wajah kita. Kematian selalu dekat. Baru saya paham kini bahwa pemikiran bahwa kita mungkin pergi dari dunia ini kapan pun akan membuat siapa pun terdorong untuk bergerak; mengokohkan eksistensi dan membuat esensi. Tetapi, prinsip tersebut tidak sinkron dengan pengalaman sleep apnea yang saya alami, saat saya begitu ingin mati dan tahu kematian tersebut berada di tenggorokan saya. Alih-alih menggerakkan, kesadaran tersebut justru melumpuhkan.

Apakah benar seseorang yang tahu kematiannya datang esok hari akan melakukan apa pun yang ia ingin lakukan?

Apakah teror tidak melumpuhkan orang lain seperti ia melumpuhkan saya?

Jawaban tersebut datang tidak lama setelah peristiwa R terjadi. Nenek saya jatuh sakit dan, tanpa berniat menakuti atau melangkahi takdir, keluarga kami berpikir yang terburuk akan terjadi. Di hari beliau dioperasi, saya melihat hal-hal di matanya: ketakutan, kerinduan, penyesalan, sedih, dan segala hal-hal sendu. Nenek saya telah berkali-kali dalam beberapa bulan ke belakang menyebarkan tanda-tanda bahwa di usia 88 tahun, ia tidak ingin hidup lagi. Merindukan kematian, judulnya. Tetapi, senja itu, saya melihat di matanya berbagai hal, tetapi tidak ada itu: kelegaan. Saya mengira, untuk seseorang yang telah mengharapkan Kematian sejak beberapa tahun ke belakang, kedatangannya akan disambut dengan suka cita. Nyatanya, Kematian tetaplah momok yang menakutkan.

Hal ini terkonfirmasi dari sebuah kejadian antara kakek dan nenek saya (yang bagi nenek saya sangat, sangat lucu):

Suatu hari Kakek dan Nenek sedang menunggu Oom saya di dalam mobil dengan menutup semua jendela dan pintu, tanpa menyalakan pendingin. Nenek saya yang tidak tahan panas mengusulkan pada Kakek untuk menyalakan pendingin, sedangkan Kakek yang sensitif terhadap dingin bersikeras bahwa itu tidak perlu. Nenek saya lalu mengatakan, “Pah, nanti ngga ada udara, gimana kalau mati?” yang disambut dengan Kakek saya yang berusia 89 tahun sekuat tenaga merangkak ke kursi depan untuk menghidupkan pendingin.

Nyatanya, Kematian lebih mengerikan dibandingkan Kedinginan. Kematian tetap bukan ide yang bersahabat bahkan bagi manusia hampir satu abad. Tetapi, di sini saya melihat bahwa Kematian menggerakkan seseorang, alih-alih melumpuhkan. Bedanya, pergerakan tersebut terjadi untuk menghindari kematian, bukan untuk membuat hidup menjadi lebih hidup.

Kembali ke saat nenek saya sebelum di operasi, ia menjadi tidak ingin melakukan apa pun. Sebuah operasi besar dengan risiko tinggi yang tanpa harus dikatakan, semua anggota keluarga tahu apa yang dipertaruhkan, bahkan Nenek sendiri. Ia menjadi tidak ingin makan, tidak ingin tidur, dan tidak ingin lain-lain yang justru mengonfirmasi dugaan saya bahwa Kematian malah melumpuhkan. Teror.

Lalu, apa yang dimaksud oleh Eksistensialisme?

Hal-hal yang berkenaan dengan kematian sedang melingkupi hidup saya, tetapi justru tidak meneror saya seperti sebelumnya. Obsesi tersebut sudah tidak ada, tetapi topiknya menjadi semakin dekat dan begitu hangat. Hidup saya dipenuhi kemungkinan akan Kematian, sebuah okupasi di dalam hari-hari yang saya jalani. Tetapi, semakin ia melingkupi, semakin kecil volumenya di dalam hati.

Kematian yang telah terjadi pada orang-orang yang saya kenal tidak membuatnya terasa lebih dekat. Bukan berarti saya merasa ia menjauh, melainkan karena saya tidak lagi mendambakannya. Obsesi itu telah tumbang, sehingga kalau pun ia datang, ia akan menyapa sebuah hati yang lapang–yang menyambut kedatangan sebuah teman, bukannya pacar impian. Suatu hal yang terlalu diimpikan akan membuat gema yang menakutkan dalam setiap langkah ia mendekat, dan itu yang mungkin melumpuhkan.

Kini, meskipun masih takut terhadap Kematian, mungkin ia tidak hinggap hari demi hari di leher saya. Mungkin teror itu akan datang hanya pada saat saya sendiri yang benar-benar akan dibawa pergi. Wallahualam.

Iklan

2 comments

  1. Semoga nenek lekas sembuh dien.
    Suka sekali tulisan ini. Tidak banyak yang berani mengungkapkan secara mendalam hal yg berkaitan dengan kematian. Tapi kajian tentang kematian,katanya bisa mmbuat kita lebih mengenal tujuan hidup. Bahagia selalu šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s