Tahun Vivere Pericolosamente

Enouement

Tahun 1964, setahun sebelum G30S terjadi, Bung Karno menjadikan “Tahun Vivere Pericoloso” sebagai judul pidatonya pada peringatan hari kemerdekaan RI ke-19. Seperti yang diketahui masyarakat pada saat itu, Bung Karno memang sering mengambil berbagai istilah aneh dari beragam bahasa, dan untuk tahun tersebut, ungkapan ini diambilnya dari bahasa Italia. Vivere berarti hidup, pericoloso berarti berbahaya. Secara makna pun tidak berbelit-belit: hidup yang berbahaya. Baginya, di tahun ke-19, Indonesia harus terus berjuang dalam semangat revolusi untuk terus berkembang, yaitu dengan cara berani–berani hidup berbahaya. Karena, tidak ada kemenangan yang dicapai tanpa perlawanan dengan rasa takut, toh.

Konsep ini pula yang saya ambil untuk panduan hidup tahun ini, tapi dengan tata bahasa yang lebih baik, karena secara gramatika “tahun vivere pericoloso” itu keliru, yang benar adalah “tahun vivere pericolosamente“. Jadi, tahun ini memang saya canangkan kepada diri sendiri sebagai tahun untuk hidup dengan berbahaya, dengan berani, dengan melawan rasa takut. Hal ini sebagai follow up analisis tahun lalu, sebagai believer of personal evolution, ada tahap-tahap yang harus dilalui untuk terus-menerus berevolusi secara batin.


EVOLUSI PERSONAL

Membahas sedikit mengenai evolusi pribadi, tahun lalu saya merumuskan bahwa sebagai pribadi, ada tiga tahap yang diperlukan untuk terus berkembang: resolusi, revolusi, evolusi. Dalam bahasa Inggris, resolution adalah keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Selama dua tahun lalu, saya telah melakukan ini: saya memutuskan untuk menjadi lebih bahagia dan melepaskan diri dari zona nyaman saya–distimia. Lalu, tahun ini saya melompat ke tahap kedua, revolution; sebuah perubahan dramatis dan luas terhadap sikap, kondisi, dan cara bekerja. Revolusi ini harusnya menyasar hal yang sangat mendasar yang selalu menjadi masalah; bagi saya salah satunya adalah relationships. Sampai saat ini, saya merasakan bahwa saya telah cukup berevolusi, berubah perlahan-lahan ke level yang lebih superior, tetapi untuk dianggap telah berevolusi secara utuh, saya masih butuh memparipurnakan revolusi tahun ini di tahun depan.

langkah kedua evolusi personal: revolusi

Di tahun ini, revolusi yang direncanakan awalnya berupa keinginan untuk hidup berbahaya secara fisik, yaitu hidup nomaden dari satu tempat ke tempat lain, di jalan, alias traveling ngga berhenti. Benar-benar mencari bahaya di jalan, nggatau besok bisa makan atau ngga, tidur di mana, dan masih hidup apa ngga. Alasannya tidak lain untuk mendorong kemampuan survival saya, untuk tahu saya bakalan hancur-lebur sampai di titik mana, untuk tahu saya sekuat apa. Ekstrem, memang, apalagi mengingat saya bukan orang yang tangguh-tangguh amat dan males gerak. Sayangnya (atau untungnya?), rencana ini ngga terjadi karena satu dan lain hal. Tuhan Mahatahu bahwa saya belum mampu, ya. Tetapi, ternyata keinginan tersebut diganti menjadi rencana besar yang lebih berbahaya bagi saya: jadi pengangguran, ngga tahu mau membawa hidup ke arah mana, dan memutuskan untuk beberes diri dengan membenahi hubungan.
Wow!

Sebenarnya, jadi pengangguran itu belum menjadi masalah yang terlalu besar untuk saya, karena pada kenyataannya saya bukan orang yang suka bekerja, lebih suka ngahuleng cari ide dan bikin-bikin sesuatu untuk bagi-bagi ilmu. Tapi, ngga bekerja membuat saya bertanya-tanya umur saya ini mau digerakkan ke arah mana sih, karena karier seseorang kemungkinan besar menunjukkan orientasi hidup, dan tidak berkarier sama dengan belum menentukan orientasi. Itu adalah masalah yang lebih besar. Tetapi, tetap saja masalah terbesar yang selama ini saya biarkan terbengkalai adalah masalah hubungan, sehingga untuk membenahi yang dua sebelumnya, yang ini harus diberesin dulu. Begitulah. Jadinya, meski takut, saya memutuskan untuk berani nyebur ke dunia hubungan interpersonal.


YANG TERPENTING DALAM MENJALANI HUBUNGAN

Banyak hal yang saya coba perbaiki dalam cara saya menangani, membangun, memperbaiki, dan mengakhiri sebuah hubungan, baik itu hubungan keluarga, pertemanan, kerja, rekanan, dan romantis. Salah satu hal sederhananya adalah keterbukaan (disclosure). Setelah saya mengamati beragam hubungan orang lain pun saya sadar bahwa disclosure ini adalah salah satu virus dalam hubungan manusia, karena banyak sekali pernikahan yang bertahan puluhan tahun, sampai maut memisahkan, tetapi tidak bahagia karena tidak adanya keterbukaan.

Keterbukaan ini harus memenuhi syarat hubungan yang fundamental, yaitu berjalan dua arah. Pihak A dan B sama-sama terbuka, terbuka untuk memberi dan menerima, untuk mengenal dan dikenal, untuk membantu dan dibantu, dan lain-lain. Pemahaman adanya syarat keterbukaan dua arah ini membuka banyak sekali pintu silaturahmi, ternyata, karena pada dasarnya setiap manusia ingin menerima dan diterima. Meski, pada kenyataannya, lebih banyak human relationships yang tidak dihidupi dengan ideal seperti konsep ini.

Konsep ini yang ngga pernah saya pahami dari kecil, karena ngga pernah diajari oleh orang tua, sekolah, dan dari pendidikan mana pun. Dan ternyata, keterbukaan dan hubungan dua arah ini juga ngga dipahami oleh kebanyakan dari kita. Saya juga kaget pas sadar, begitu banyak tali emosi yang tadinya rekat, berakhir renggang atau bahkan putus karena tidak berjalan seimbang. Atau juga tali-tali yang bertahan puluhan tahun, tetapi rapuh dan makan hati. Intinya, ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan dalam berhubungan seringkali berpangkal dari sini.

Padahal, dampak positifnya banyak, lho, jika kita terbuka dalam suatu hubungan. Contohnya, sekarang saya mampu mengatakan apa yang saya pikirkan terhadap pernyataan seseorang kepada saya, dan mereka pun jadi memahami perilaku saya. Imbasnya, saya pun jadi ikut memahami dan menerima orang tersebut di lain waktu. Contoh lainnya, saya sekarang sadar bahwa ngga ada salahnya kalau ada seseorang yang suka sama saya meski pun saya ngga sempurna, karena toh saya pun bisa dengan lapang dada menyukai seseorang meskipun ia juga tidak sempurna.

sendirian dengan hati penuh Tuhan, itulah saat aku merasa pulang

TUHANRevolusi hubungan ini ternyata mengubah hidup saya jauh dari yang saya bayangkan, karena ternyata saya menjadi lebih yakin dengan hubungan terpenting yang seharusnya menjadi alasan saya melakukan ini semua: hubungan saya dengan Tuhan. Meskipun tidak akan pernah sempurna, hubungan dengan Tuhan selalu bisa diperbaiki. Berbagai macam cara Tuhan menyentuh kita; beberapa orang disentuh duluan secara langsung di nuraninya, baru ia memperbaiki hidupnya. Sedangkan saya, disentuh untuk memperbaiki hidup dan diri duluan untuk pada akhirnya membuka hati terhadap-Nya. Bagi saya, selama jalan tersebut mengarah pada-Nya, bagaimana pun rutenya, tidak ada yang salah.

Hubungan dengan manusia yang diperbaiki membawa saya membetulkan hubungan dengan Tuhan, yang akhirnya menguatkan perasaan saya tentang hubungan dengan manusia, yang akhirnya meyakinkan saya terhadap Tuhan. Dan ini akan terus saling menguatkan, karena dalam agama saya, habluminannas dan habluminallah adalah fatal. Namun, hikmah terbesar yang saya pelajari tahun ini adalah dengan memperbaiki hubungan dengan Tuhan, saya semakin belajar untuk tidak terikat dengan manusia mana pun–terutama cinta yang belum waktunya dan tidak pada tempatnya. Pada akhirnya, ketidakterikatan adalah jalan untuk memaafkan.


KETAKTERIKATAN DAN SPIRITUALISME

Ide ketakterikatan (detachment) ini seperti yang diajarkan Deepak Chopra sebagai salah satu konsep dasar spiritualisme–suatu ide yang menyadarkan saya bahwa attachment adalah pangkal segala penderitaan manusia. Ternyata, di dalam agama saya pun hal ini menjadi dasar dalam beriman, seperti juga dalam Buddhisme, Yudaisme, Kekristenan, Hinduisme, dan kebanyakan agama lain. Sederhananya, gantungkanlah hati pada Yang Maha Digantungkan karena yang material itu rapuh. Dan tahun ini, saya kembali diingatkan untuk kembali mempraktikkannya.

Tahun ini, seperti tahun-tahun yang udah lewat, ada banyak orang yang datang dan pergi dalam hidup saya, tetapi baru kali ini saya benar-benar mensyukuri satu per satu nama yang datang dan pergi tersebut. Setiap orang datang dengan pelajarannya masing-masing; some with more lessons than the others; dan beberapa datang memperkuat pelajaran yang sebelumnya. Tapi, yang jelas, meskipun beberapa yang pernah berarti sudah benar-benar pergi (dan saya hapal waktu pastinya), tidak ada perasaan menyesal, karena keterbukaan dan ketakterikatan itu. Semua yang harus disampaikan telah disampaikan, dan yang tidak sempat disampaikan telah menguap karena dengan mereka saya tidak merasa terikat. Saya telah memaafkan, dan semoga mereka pun telah memaafkan saya.


REVOLUSI YANG MENYEBAR

Selain revolusi hubungan, tahun ini saya juga merevolusi bacaan. Topik, bahasa, dan jenis buku yang saya baca sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Saya juga merevolusi kriteria pasangan hidup dan visi-misi hidup bersama, menjadi lebih aktual dan realistis. Mimpi saya pun direvolusi, meski untuk yang ini, revolusi tersebut menjadi salah arah dan masih harus disusun ulang tahun depan. (Yes, berarti tahun depan sudah punya fokus baru: revolusi mimpi!) Dan bagi saya, jika benar-benar ada yang sangat berbahaya selain nyebur ke relationship fiasco, ya melepas ikatan dari mimpi-mimpi, being the original dreamer that I am. Rasanya seperti melepaskan identitas, pada awalnya, tetapi setelah kembali ke ketidakterikatan, nothing is so bad. Visi hidup telah direvolusi, jadi segalanya pun ikut di-update dan di-upgrade. Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah penurunan, bagi saya, ini adalah bagian dari evolusi personal.

wujud revolusi tahun ini, misi sejak dua tahun lalu: berbagi minat dalam Kata Hari Ini (image credit: Bella Amanda Maharani)

MENJADI INDIENASaya pernah ditanya oleh teman saya Naomi: jika boleh menamakan, apa sesungguhnya fungsi saya di dunia ini. Sebelum menjawab, saya tanya baginya sendiri apa fungsimu di dunia ini. Ia bilang, “To dream.” Lalu, saya sebutkan fungsi saya di dunia ini, “To be me.”

Perjalanan hidup telah membuat saya memilih untuk bersepakat dengan Herakleitos bahwa “kita tidak bisa turun ke sungai yang sama dua kali”, karena yang konstan di dunia ini adalah perubahan. While the river is everywhere, you can’t step into the same river twice.

That I am never Indiena, because all I can be is becoming Indiena. Bahwa Indiena adalah sebuah konsep yang tidak akan pernah mewujud dan saya hanya bisa meng-Indiena. Menjadi Indiena.

Jadi, itu fungsi saya di dunia ini: menjadi Indiena di setiap saat, meskipun harus ada mimpi-mimpi yang dibuang (yang dulu tidak akan pernah saya lakukan), atau identitas yang direlakan, atau cinta yang dikorbankan, jika sudah kadaluwarsa dan tidak pada tempatnya.
Itulah bagaimana seseorang berusaha menjadi dirinya sendiri. Itulah bagaimana seseorang menjadi ada. Itulah bagaimana seseorang menjadi.

To be.

Now. Here.

_____________________________________________________

(Untuk tahun nano-nano 2016 yang mendewasakan. Untuk tahun yang misterius di depan. Masih tahun vivere pericolosamente. Bersulang.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s