Bagaimana Diskonan Bisa Menyeleksi Teman

Clickbait doang. Sebenarnya ngga seekstrem itu, sih. Tapi ada betulnya juga.

——-

Jadi, semenjak mencoba berdagang kecil-kecilan saya jadi merasakan banget apa yang teman-teman pebisnis tangguh saya rasakan. Sebagai orang yang berbisnis karena kebutuhan dan bukan kesukaan apalagi ketertarikan, rasanya semakin berat kalau ada kerikil kecil yang bikin tersandung.

Namun, sesungguhnya berjualan memang begitu. Ngga laku, bingung strategi marketing, terkadang jadwal bertabrakan dengan kerjaan lain dan istirahat, dan harga bahan-bahan yang dari awal udah mahal dan segala macam. Diberi harapan palsu sama calon pembeli mah sudah biasa. Namun, lebih sering yang membuat semuanya jadi dimasukin hati adalah kalau pelakunya teman sendiri. Awalnya sih begitu, tapi lama-lama sudah ngga sakit hati lagi, toh mereka juga punya hak, dan mereka ngga menolak dengan kasar atau menyinggung. Ini mah masalah saya yang terlalu sensitif.

Sayangnya, ada satu hal yang sampai saat ini sulit sekali untuk tidak bikin kecewa, dan itu ada hubungannya dengan perasaan dihargai. Yaitu hal yang berkaitan dengan “harga teman”.

Dan entah kenapa semakin ke sini semakin sering secara kebetulan dipertemukan dengan orang-orang yang pernyataannya semakin menguatkan perasaan saya untuk merasa berhak kecewa (agak aneh memang, tapi everyone is entitled to their own feelings, selama tidak mendiskriminasikan pelakunya, toh.)

Selain twit Oom Pinot di atas, saya juga dipertemukan dengan teman-teman dari Lokalogue yang secara berapi-api memberikan alasan kenapa kita patut kecewa kalau ada yang minta harga teman. Dan kenapa kita patut memberikan price list kepada teman yang meminta “bantuan” jasa kita.

Alasannya simpel. Apapun usaha kita, desain, menggambar, menulis, menerjemah, menjahit, kita telah sampai di titik ini bukan dengan mudah. Ada beribu-ribu jam yang kita habiskan untuk bisa sampai di sini, di mana kita cukup dipercaya untuk membantu mereka (atau bagi mereka suka dengan barang/jasa kita). Dan ada berember-ember keringat (hiperbola dikit) yang jatuh sampai kita bisa cukup percaya diri untuk menampilkan itu di muka umum. Dan ada perjalanan panjang yang cukup berat dilalui untuk kita akhirnya berani meyakinkan diri untuk melakukan ini.

Dan itu semua rasanya ditebas mati dengan kalimat “minta diskon dong, kan teman.”

Padahal, kita berekspektasi untuk teman kita menjadi orang yang paling menghargai, paling mengerti, paling rela untuk bayar kerja keras kita.

Rasanya tuh seperti saat belahan jiwa kita ngga bisa paham sama jalan pikiran kita. Rasanya aneh, dan kecewa.

Nah, ini terasa berbeda banget intensitas kecewanya saat ada orang asing yang minta diskon. Kecewa sih, tapi yaudah.

Dan ini datang dari berbagai jenis kalimat variasinya ya, seperti “mahal banget!”, “kok semahal itu?”, “ngga bisa diturunin kah?”, dan lain-lain yang esensinya sama. Tidak rela bayar lebih karena kan temenan, masa tega sih ngasih harga segitu? Padahal di dalam hati ingin berteriak, “Masa tega sih ke yang teman jualan susah-susah, hiks.”

Ya, tapi senangnya adalah sekarang sudah bisa meregulasi rasa kecewanya. Caranya, ya dengan bikin mental note aja mana teman yang beneran akan dengan senang hati diberi diskon di masa mendatang dan dengan yang tidak akan pernah dikasih diskon sama sekali, HAHAHAHA.

Ngga deng. Caranya ya dengan bikin mental note aja bahwa ada teman-teman yang memang mendukung, yang akan bisa kita minta pendapatnya, suportnya, kepercayaannya, dan ketulusannya di masa mendatang, dan mana yang ngga perlu diharapkan untuk menjadi tempat bersandar.

Dan saya setuju dengan kata-kata teman-teman di Lokalogue, kalau teman sejati, akan membayar dengan harga teman yang sebenarnya, yaitu dengan dilebihkan. Mungkin ngga harus uangnya, tapi doanya, promosinya, rekomendasinya, dan suportnya. Itu juga udah cukup kok bikin merasa disayang dan dihargai. Dan itu menyenangkan sekali.

Mungkin kesannya bagi beberapa orang manja banget ya kok pengennya dihargai terus dan dimanja, tapi kan saya cuma minta ini ke teman-teman saya aja. Bukan ke Anda, wahai orang asing. Dan memang, kalau memang tidak saling menghargai, itu bukan teman, tetapi netizen.

Begitulah.

PS. Tulisan ini bukan dibuat sebagai upaya memaksa teman-teman saya yang baca untuk beli brownies Origin, brownies terenak se-Indonesia Raya (Instagram-nya @origin.pastry) atau minta dilebihkan bayarnya atau promonya. Tulisan ini dibuat karena resah dan gelisah saja. Bagaimana Anda mempersepsikannya, itu hak Anda, kok 0:)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s