Komunikasi Efektif dengan Orang yang Genting Bunuh Diri

Jadi, media sosial sedang ramai dengan topik seorang bapak yang bunuh diri secara live di Facebook. Banyak sekali yang berkomentar dan memberi opini, bahkan sampai menasihati si Bapak yang udah telanjur meninggalkan dunia ini bahwa bunuh diri itu dosa (efektif banget, ya). Sebagian ingin menolong, tapi tidak tahu caranya. Sebagian lagi hanya ingin bersuara (misalnya dengan berantem tentang etis atau tidaknya memberikan siraman rohani kepada orang yang dalam proses bunuh diri). Perbedaan opini ini wajar, mengingat belum luasnya pengetahuan mengenai hal darurat semacam bunuh diri.

Oleh karena itu, untuk menyamaratakan pengetahuan yang mungkin belum didapatkan, saya ingin berbagi mengenai kenapa memberi nasihat kepada orang yang sedang di ujung tanduk untuk bunuh diri tidak efektif. Mudah-mudahan, pada akhirnya, bisa membantu mencegah. Minimal, bisa membantu kita lebih bijak dalam berkomentar.

Jadi, salahkah jika kita mengingatkan seseorang yang ingin bunuh diri terhadap dosa dan nilai-nilai agama? Tidak salah, tetapi juga tidak tepat. Itu adalah reaksi wajar bagi kita yang merasa tidak pernah bunuh diri karena kita beragama, sayangnya reaksi tersebut juga tidak tepat karena orang yang bunuh diri tidak berada dalam posisi yang sedang ingat agama.

Dalam ilmu NLP, ada yang namanya gelombang alfa, yaitu gelombang otak yang membuat seseorang merasa relaks dan fokus, sehingga sudut pandang orang tersebut menjadi sempit dan tidak menyadari hal-hal lain di sekitarnya. Seseorang yang berada dalam zona alfa ini sangat mudah dipengaruhi (bahasa kontemporernya: disugesti) oleh orang lain. Itu sebabnya hipnosis dilakukan pada orang-orang yang berada dalam gelombang ini (dalam kasus kriminal ya, kalau dalam kasus terapi biasanya kliennya dibuat masuk ke dalam gelombang tersebut). Contoh orang yang sedang dalam gelombang alfa adalah orang yang sedang beribadah dan meditasi–relaks dan terbuka terhadap inspirasi dan wahyu. Namun, contoh lainnya yang lebih berbahaya adalah orang yang sedang terpreokupasi dengan keinginan bunuh diri.

Secara neurolinguistik, otak kita lebih sulit memroses kata-kata negasi dibandingkan afirmasi dan netral, sehingga “tidak” dan “jangan” lebih sulit dicerna ketimbang “silakan” dan “makan”. Bayangkan seseorang yang otaknya berada dalam gelombang alfa–terfokus, relaks, mudah dipengaruhi–ditepuk dan diberitahu untuk “jangan kasih saya duit”. Kemungkinan besar, ia akan memberi Anda duit. Hal ini pun berlaku bagi orang yang sedang akan bunuh diri.

Orang yang akan bunuh diri sedang berada dalam keadaan terfokus untuk menghilangkan rasa sakitnya (fakta: kebanyakan orang yang bunuh diri tidak menekankan kepada kematian itu sendiri, tetapi kepada penghilangan rasa sakit, meskipun itu berarti dirinya pun harus hilang). Artinya, pandangannya menyempit dan energinya terpusat pada satu hal tersebut, seperti orang bermeditasi ringan. Dalam kondisi seperti ini, otaknya tidak bisa memroses informasi-informasi kompleks; hal-hal berat ini tugasnya gelombang beta. Dan, dalam gelombang alfa, otak menjadi lebih efektif mencerna kalimat-kalimat pendek dan afirmasi/netral. Inilah kenapa nasihat, penekanan nilai-nilai moral, dan dakwah tidak efektif mencegah orang yang bunuh diri, sedangkan kata-kata seperti “jangan lompat” justru terserap oleh orang tersebut. Sayangnya, kata “jangan” ditolak oleh otak, sehingga yang ia dengar hanya sebuah dorongan “lompat”. Maka, lompatlah ia.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan? Bawa dia kembali ke gelombang beta, gelombang kesadaran dan pikiran kritis. Bukan dengan memberi nasihat, apalagi yang bertele-tele, tetapi dengan pertanyaan singkat seperti, “Gimana kamu akan melakukannya?” atau “Berapa 4×9?” Pertanyaan, apalagi yang janggal seperti yang terakhir, akan membuatnya terdistraksi, minimalnya, “Kenapa nanyain perkalian?” Dengan ia mulai bertanya kepada dirinya, ia telah menjauh dari gelombang alfa.

Setelah ia sadar, tanyalah lagi hal-hal yang bisa membuatnya semakin berkonsentrasi dengan pikiran sadar. Alihkan fokusnya. Kalau ia sedang berdiri di pinggir bangunan untuk melompat, terus ajak bicara sampai kita menjadi cukup dekat dan bisa meraihnya untuk menjauh dari tepi.

Terkadang kita merasa segan untuk menolong karena berpikir “Dia ingin bunuh diri, terus masa aku ngelarang?” Percayalah, orang-orang yang melakukan usaha bunuh diri di muka publik atau memberi tahu seseorang berarti mereka sedang mencari pertolongan dan ingin dihentikan. Hal ini juga berlaku untuk orang yang belum di ambang bunuh diri, tetapi berkali-kali memberi kode bahwa ia sedang berpikir untuk bunuh diri. Alih-alih menyalahkan, kita bisa berusaha melakukan sesuatu: mengalihkan perhatian, menjauhkan dari senjata bunuh diri, atau cari tau keberadaannya. Jika kita tidak bisa melakukannya sendiri, minta bantuan orang lain–telepon orang yang ahli, panggil ambulans/polisi/psikiater, atau minta tips ke orang-orang yang tau.

Ingat, berkata “Coba pikir, kamu masih muda, masa depanmu masih bisa berubah, ada pelangi setelah hujan, kamu harus bertahan” bukanlah tindakan yang tepat. Itu adalah sebuah tantangan yang bisa mengagitasi. Apalagi “Coba gantung dirimu kalo berani!” kan…. Berusahalah untuk tidak provokatif ya….

Beberapa cara untuk mencegah tindakan bunuh diri orang tersayang kita, di antara lain, adalah dengan membicarakannya secara terbuka. Tunjukkan padanya bahwa kita memang peduli dan ingin ia untuk tidak meninggalkan kita. Cobalah berempati, dengarkan tanpa dipotong dengan nasihat. Meskipun kita tidak mengerti rasanya, yakinkan bahwa kita bersedia diajak bicara. Jangan katakan kita paham rasanya, termasuk jika kita pernah berada dalam posisi tersebut. Jangan berargumen dengannya, misalnya mengatakan bahwa bunuh dirinya hanya akan membuat keluarganya bersedih. Ia sudah sangat bersedih, tidak perlu menanggung rasa bersalah lagi.

Terakhir, di Indonesia ada beberapa jalur yang bisa dihubungi untuk membantu Anda atau orang yang Anda sayangi:

* Pencegahan bunuh diri:

(021)7256526, (021) 7257826, (021) 7221810.

* Hotline konseling masalah kejiwaan Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes RI:

500-454

Perlu diingat bahwa kita tidak harus menyelesaikannya sendirian. Ada orang-orang di dunia ini yang bisa membantu kita untuk mengatasi keinginan bunuh diri, baik keinginan kita sendiri atau orang lain. Jadi, hubungi saja mereka.

(Sumber: pelatihan NLP, pengalaman pribadi, beberapa situs pertolongan bunuh diri, dan Wikipedia nomor darurat di Indonesia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s