Suara-Suara

Saya percaya setiap orang bergerak dan tergerak oleh satu hal. Tujuan. Masing-masing dari kita menanam satu alasan tersebut di dalam hati. Kita siram dan kita kasihi.

Bunda Teresa bertahan bertahun-tahun menyerahkan hidupnya demi orang lain. Hitler membunuh jutaan Yahudi untuk membela egonya. Soeharto membangun kerajaan harta karena cintanya pada kekuasaan. Masing-masing individu tersebut digerakkan oleh tujuan yang mungkin, sebenar-benarnya, tidak pernah diungkap ke hadapan dunia.

Saya dan Anda pun begitu. Saya sudah memutuskan semenjak berusia 7 tahun bahwa saya ingin menulis. Tujuannya belum jelas terlihat, mengapa saya harus menulis. Tapi, perlahan, saya mulai paham. Menulis adalah jalan setapak di saat-saat tergelap. Saya menulis, menulis, dan menulis sampai gila, berlari dari kegilaan yang lain. Menulis menjadi sangat natural disebabkan urgensi yang ada. Tekanan mengembangkan. Paksaan yang mendorong.

Lalu, semua itu hilang. Ironisnya, karena perjuangan saya sendiri. Baru sekarang saya menyadari, yang membunuh tulisan saya, adalah saya sendiri. Penggerak terbesar saya hilang untuk menulis. Lebih tepatnya, suara yang familiar telah pergi.

Kegilaan dan kesedihan berkepanjangan, pada saat itu, menjelma ribuan suara yang merongrong. Gelas ekspresi saya tumpah dengan dorongan-dorongan yang mendesak untuk diwujudkan, dilahirkan ke dunia. Saat Winter Lily hilang, gelas saya kosong. Suara saya hilang.

Entah suara apa yang membuat Hitler tidak berhenti. Entah suara siapa yang mendorong Kierkegaard untuk terus berlari.

Dan, saya pikir, kepergian Winter Lily akan membantu suara saya untuk lebih saya kenali.

Ternyata, saya salah. Ternyata, selama ini, justru Winter Lily yang paling nyaring berteriak.

Saat dia mati, ternyata saya ditinggalkan tanpa apa-apa lagi.

Ternyata tanpanya, pikiran saya begitu hening. Perasaan saya begitu senyap. Tidak ada rasa urgensi yang menggedor pintu inspirasi. Dan satu-satunya hal yang saya tahu cara untuk melakukannya telah mengkhianati.

Bentuk kegilaan yang lain sedang mengambil bentuknya perlahan-lahan. Tapi bedanya, saya tidak akan menulis. Semua orang di dalam diri saya telah memilih bungkam.

Lalu, saya hanya terdiam.

Mungkin Tuhan akan menolong saya. Mungkin tujuan saya akan berubah. Tetapi, prosesnya tidak mudah.

Tuhanku, tolong berikan aku kekuatan dan kepercayaan yang besar, dari hari ke hari.

Aamiin.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s