Ketika Rangga Ditabok Secara Feminis

Zaman sekarang, you’re either a feminist or an asshole. Itu sih stigma yang saya rasa sedang beredar di masyarakat. Saat seseorang bilang, tanpa tau sesungguhnya definisi feminis itu apa, bahwa ia bukan seorang feminis karena berbagai alasan yang bisa saja bukan berarti ia mendukung budaya patriarki, saat itu pula ia dicap tidak punya hati. Dan karena saya jelas bukan asshole, jadi tentu saja saya seorang feminis.

Katanya, kalau Anda seorang humanis, sudah tentu Anda seorang feminis. Saya sih memang humanis, berarti saya juga feminis. Dari observasi saya terhadap kawan-kawan, media, dan bacaan-bacaan, saya menangkap bahwa feminisme berarti membela hak-hak wanita agar derajatnya setara dengan pria, agar tidak dijadikan manusia kelas dua, agar diberi peluang yang sama dengan para lelaki. Setelah saya baca dari rangkaian gambar di sini, ternyata secara garis besar memang begitu esensinya. Tetapi, lebih dari itu, saya menangkap bahwa feminisme adalah hal-hal luas mengenai kewanitaan; arti menjadi wanita, perjuangan sehari-hari, transformasi pencarian jati diri, dan hal-hal eksistensial kewanitaan lainnya.

Nah, beberapa waktu lalu saya baca artikel ini dan berpikir bahwa terhadap artikel tersebut, saya banyak setujunya, karena sebagai wanita saya memang mendambakan hubungan yang seimbang, yang memberikan saya suara dan penghormatan terhadap keputusan, cita-cita, dan keinginan saya sebagai manusia. Apalagi, selama ini saya diajarkan oleh lingkungan untuk patuh terhadap lelaki, terlepas dari apakah lelaki tersebut keliru atau benar. Saya bukannya ngga sudi untuk menuruti pria, atau embung patuh sama suami, bukan itu sama sekali. Saya hanya berpikir dalam suatu hubungan, dua-duanya sama-sama manusia yang punya hak dan kewajiban. Jadi, kalau saya amit-amit pada akhirnya dipoligami, itu harus terjadi atas izin saya, dan sang suami telah rela menjalankan beberapa syarat yang luar biasa berat yang saya ajukan :p

Tapi, ada satu hal dalam artikel tersebut yang menurut saya konyol. Mungkin artikel tersebut tidak bermaksud membuatnya sebagai justifikasi perlakuan Cinta terhadap Rangga, mungkin bukan itu juga maksudnya–bahkan mungkin tidak menginginkan untuk fokus beralih ke sana sama sekali, tetapi saya merasa gelisah dengan hal tersebut. Bahwa tulisan tersebut mengatakan feminismelah yang membuat Cinta menampar Rangga.

Tunggu. Gimana maksudnya?

Saya yakin, walau pun belum membaca tulisan ilmiah mau pun nonilmiah mengenai feminisme, feminisme tidak menganjurkan atau pun membenarkan perempuan mana pun menabok laki-laki atau manusia mana pun tanpa alasan yang fundamental. Alasan fundamental misalnya perlindungan diri, membela hak azasi, atau membela harga diri. Contohnya, kalau waktu itu Rangga melecehkan Cinta secara seksual, tamparan itu valid. Atau jika waktu itu Cinta ditinggal di tengah hutan karena Rangga tidak menghargai Cinta sebagai manusia yang bermartabat, maka seharusnya Rangga menerima lebih dari pukulan di pipi. Tapi, Cinta menampar Rangga bukan karena ia merasa wanita direndahkan derajatnya. Cinta menampar Rangga karena terluka ditinggal tanpa kabar, semata-mata karena Rangga menghargai Cinta yang bisa lebih maju kalau tidak terikat oleh Rangga (menurut Rangga). Jadi, apakah Rangga ditabok Cinta secara feminis? Menurut saya, tidak. Rangga ditabok karena emosi. Kelar urusan.

Hal ini, bagi saya, justru merupakan sebuah kemunduran prinsip-prinsip feminisme, karena feminisme adalah pembelaan hak asasi manusia. Kalau Rangga digampar sebagai sebuah bentuk pertahanan diri, okelah. Tapi, dalam kasus ini, Cinta menampar Rangga karena agresivitas. Dengan kata lain, tamparan tersebut adalah sebuah kekerasan. Jadi, tidak ada alasan untuk membenarkan tabokan tersebut. Sori, AADC. Walau pun kamu keren, saya terusik sekali dengan adegan itu.

(Jadi, Cinta itu seorang feminis atau asshole? :p)

Menurut saya, dengan dimakluminya adegan tersebut, kasus Cinta justru menjadi sangat tidak feminis. Bukankah justru budaya patriarki yang menganggap bahwa wanita sah untuk melakukan kekerasan terhadap pria, karena sebagai kaum yang lebih lemah tidak ada lagi perlawanan diri yang lebih berarti? Ataukah ini hanya berarti bahwa diskriminasi dan standar ganda masih merupakan musuh feminisme yang terdekat dan paling nyata? Hm, entahlah.

Pertanyaan saya adalah, pada kasus yang sama, jika situasinya terbalik dengan Rangga yang menampar Cinta, apakah penonton akan sama permisifnya?

 

Tulisan ini dibuat oleh Indiena Saraswati, yang mengagumi produksi AADC.
Ilustrasi tulisan ini dibuat oleh Aini Noor Tauhida, yang belum nonton AADC dan punya galeri karya di instagram.com/aininoort.

 

P.S. Segala bentuk diskusi dan pemikiran akan sangat dihargai untuk meluruskan hal ini, karena sebegitu sukanya saya sama AADC. Akan sangat membanggakan sekali kalau AADC bisa ditelaah dengan mendalam dan penuh gairah :p

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s