Tidak Rindu pada Winter Lily

Mungkin saya memang setia terhadap menulis, tetapi saya tidak selalu melakukannya.

Akhir-akhir ini (yang artinya beberapa tahun ke belakang), saya menghadapi kesulitan-kesulitan untuk menulis. Saat Winter Lily masih bernapas rutin, saya mendapatkan banyak sekali emas-emas yang tergali. Bisa dibilang, Winter Lily merupakan sebuah tambang tersendiri. Tetapi, saat The Cave melingkupi batin saya, waktu terhenti di dalam semesta diri saya. Semuanya luruh, semuanya membeku, semuanya menguap. Hm, terkadang saya bertanya-tanya, apakah saya merindukan Winter Lily?

Seharusnya sih tidak. Dan mungkin memang tidak.

Tetapi, itulah sulitnya proses penyembuhan. Apalagi untuk sesuatu yang telah menetap terlalu lama, seolah ia menjadi bagian dari siapa diri kita. Winter Lily sebagai oasis bahan-bahan tulisan menyediakan banyak sekali perasaan dan ide-ide yang mendorong saya menulis. Mungkin itulah kelemahan saya sebagai penulis yang terdorong oleh perasaan: saat perasaan-perasaan itu menghilang, sesuatu yang sentral bagi tulisan saya ikutan raib.  Dulu, saat saya merasa begitu terpenjara oleh setan-setan di hati, saya bergerak membabi-buta untuk menggaungkan suara saya di dunia dengan menulis. Terseok-seok mencari cara untuk memberikan Winter Lily suara. Lalu, saat dia telah tidur (semoga untuk selamanya), saya menemukan bahwa saya tidak memiliki wajah dan suara saya sendiri. Orang-orang mengenal suara saya sebagai suara Winter Lily.

Apakah itu menyakitkan?

Tidak. Semua ini adalah sebuah kebingungan.

Untuk seseorang yang bertahun-tahun berjuang untuk keluar dari sebuah wajah iblis yang mengiringi di pundak, hal tersebut menjadi sebuah tujuan hidup tersendiri: bertahan hidup tanpa dikalahkan penyakit mental. Lalu, saat sang iblis telah gugur, saya baru menemukan bahwa sekarang saya masih dalam tahap recovery dari sebuah syok bahwa musuh saya telah mati. Ini semua adalah proses, tetapi seperti yang kita ketahui, proses pun dapat menyakitkan.

Saya rasa yang saya butuhkan adalah waktu dan jarak. Lebih tepatnya, waktu yang akan menciptakan jarak antara saya dan segala euforia keberhasilan mengalahkan monster, dan pada akhirnya menyadari bahwa saya butuh alasan baru untuk menulis.

Saya tidak butuh buru-buru, saya hanya butuh waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s