Kesengsem Novel O karya Eka Kurniawan

Saya baru rampung membaca O karya Eka Kurniawan, yang sejujurnya seorang penulis yang baru saya “temukan” dari kabar dinominasikannya beliau dalam Penghargaan Man Booker. Sebelumnya saya belum mendengar nama Eka Kurniawan, sehingga saat tau ada penulis Indonesia yang dicalonkan sebagai penerima penghargaan bergengsi internasional tersebut, saya jadi penasaran.

Dari Goodreads, Wikipedia, dan situs-situs lain saya paham bahwa beliau terkenal secara mendunia karena novel pertamanya, Cantik Itu Luka yang diterjemahkan dengan kerennya sebagai Beauty Is Pain. Novel yang sama mengantarkannya ke pintu nominasi Penghargaan Man Booker. Sebagai wanita yang punya isu personal tentang kecantikan, saya semakin tergerak untuk baca bukunya. Jadi, saya pergi ke toko buku, dan alih-alih menemukan novel yang saya cari, saya malah melihat novel O duluan. Akhirnya, dua buku Eka Kurniawan saya bawa pulang hari itu.

Eka Kurniawan dalam peluncuran novel O. Foto diambil dari bbc.com

Sekali lagi, saya yang sedang melancong waktu itu berniat membaca Cantik Itu Luka terlebih dulu. Tapi, karena sampul O jauh lebih menarik dan menyenangkan dibandingkan novel pertama, saya memutuskan baca yang terakhir dulu.

Dan…

Ah. Bagaimana ya menjelaskannya. Sejauh ini, novel ini adalah satu-satunya buku yang bisa menggerakkan saya untuk akhirnya menulis review. Tidak, bukan review. Saya akan mendedikasikan post ini untuk membeberkan kenapa, bagi saya, novel ini brilian dan penulisnya jenius. Tidak kurang, tidak lebih.

Sebelumnya, mungkin ada beberapa spoiler yang akan muncul. Saya tidak pasti, karena sejauh mana suatu hal itu spoiler atau bukan, definisinya bergantung pada pembaca. Jadi, hati-hatilah, wahai manusia.

NOVEL O ITU ISTIMEWA KARENA…

Hal pertama yang mencuri hati saya adalah empati kebendaan sang penulis, sampai-sampai sebuah revolver pun punya cerita dan perasaan. Sebagai orang yang pernah menulis mengenai kelahiran sebuah payung (yang tidak tamat, hahaha), saya telah lama ingin lihat ada penulis lain yang melakukan ini. Sebuah benda yang begitu manusiawi, sampai punya perasaan dan sudut pandang.

Nah, hal ini berhubungan juga dengan kekerenan lain novel ini. Karakter-karakter yang diangkat memiliki kisahnya masing-masing, yang memberikan alasan (atau sudut pandang) mengapa satu karakter berperilaku demikian, sedangkan yang lain berperilaku tidak demikian. Penceritaan kisah-kisah tersebut pun singkat dan padat. Tidak bertele-tele, tetapi memberikan efek yang pas untuk menilai masing-masing karakter dan memahami mereka secara intim.

Teknik bercerita sang penulis, menurut saya, sungguh luar biasa. Dari pemilihan kata-kata yang natural dan tidak memaksa, strukturisasi pikiran yang konsisten dan koheren bagi masing-masing tokoh (padahal luar biasa banyak), adaptasi pola pikir berbahasa Inggris yang dilakukan tanpa kagok, sampai alur cerita yang maju-mundur tetapi begitu mudah untuk diikuti dan dipahami.

Novel ini tidak digerakkan oleh cerita, misalnya seperti Inteligensi Embun Pagi. Sebaliknya, ceritalah yang menggerakkan novel ini. Ia begitu mengalir dan membumi, sehingga walau pun tidak banyak kata-kata bermuatan emosi, saya ikutan sengsara dan bahagia. Semata-mata karena cerita yang digambarkan sangat dekat dengan kenyataan. Justru, diksi novel ini cenderung netral, tanpa penekanan yang tidak perlu (misalnya seperti karya-karya saya sendiri), yang dengan baik menyampaikan bahwa segala kisah memiliki hidup dan napasnya sendiri. Seolah penulis tidak bertanggung jawab atasnya, karena ia hanya menuliskannya.

Keberhargaan sebuah cerita dan buku bagi saya pribadi adalah relevansinya pada kehidupan. Dengan kata lain, kejujuran dan kealamiahan adalah sebuah hal yang penting. Hal ini kuat sekali pada novel O (dan juga novel-novel Eka Kurniawan yang lain, dari beberapa artikel yang saya baca). Isu-isu kehidupan dan sosial orang (dan binatang) Indonesia yang digambarkan secara jujur dan tanpa penghakiman, dibeberkan dengan mengalir dan tanpa canggung. Perilaku-perilaku tokoh yang beraksi dan bereaksi menggambarkan kehidupan pada umumnya, tidak pretensius. Tidak ada tokoh yang istimewa dalam penampilan dan cerita hidup di novel ini, tidak ada drama, tidak ada hiperbola. Masing-masing tokoh memiliki latar belakang yang, menurut saya, relatable bagi setiap lapis masyarakat.

Paradoks yang disajikan adalah manusia yang berperilaku seperti binatang dan binatang yang berperilaku lebih manusiawi daripada manusia itu sendiri. Bahkan sebuah benda pun, yang notabene diciptakan sebagai alat pembunuh, memiliki dorongan untuk tidak membunuh majikannya.

Saya jatuh hati pada esensi yang saya dapatkan: bahwa semua manusia, yang baik dan jahat, punya sebab-sebabnya sendiri untuk berperilaku. Yang menyedihkan adalah bahwa kebanyakan dari kita, manusia Indonesia, melakukan hal-hal yang negatif karena ketidaktahuan. Sesederhana bahwa hal tersebut adalah satu-satunya reaksi yang kita ketahui sebagai natural. Kita, yang tidak melalui kisah yang sama, yang tidak berasal dari latar belakang yang sama, tidak berhak menghakimi benar atau salah. Bahkan, seekor monyet pun tidak meninggalkan pawangnya yang brengsek dalam novel ini. Bahkan, ia lebih memiliki hati nurani dibandingkan manusia. Dan, sebagai sarjana psikologi yang dididik dengan doktrin ini, dan sebagai humanis yang memegang prinsip ini dengan teguh, saya merasa sehati.

Membaca dan menemukan Eka Kurniawan membawa kelegaan sendiri bagi saya. Akhirnya, Indonesia punya penulis kontemporer yang benar-benar memenuhi ekspektasi saya, yang bercerita dengan profesional, gamblang, jujur, tanpa sensor, tanpa drama, tanpa mendayu-dayu, tetapi tetap mencengangkan. Tidak salah kalau beliau disebut sebagai penerus Mbah Pram. Walau berbeda dalam segala hal, tapi standout-nya sama. Akhirnya, ini penulis Indonesia yang membuat saya terbawa berdebar excited dan mengalirkan burst of passion, seperti ketika dan setelah saya baca To Kill A Mockingbird.

Sebagai pembaca dan penulis yang menyukai rangkaian kata-kata indah yang tidak semanis sakarin, buku yang (bagi standar pribadi) kurang dalam hal tersebut, memberikan efek yang begitu kuat sampai mendorong saya mengampanyekan ini secara terbuka.

Kampanye apa? Ya, ini: Ayo baca O! Keren banget!

Hahaha.

Ya, sekarang saya siap sekali membaca buku-buku Eka Kurniawan yang lain, bahkan terjemahan Bahasa Inggrisnya. Kyaaaaaaaa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s