Merayakan Sebuah Kisah Secara Personal

Hari ini saya menyelesaikan penceritaan saya terhadap The Missing Piece Meets The Big O karya Shel Silverstein yang dimulai tiga hari lalu. Kisah ini adalah sebuah cerita yang menyentuh begitu lembut dan dalam, sehingga saya tergerak ingin membaginya kepada orang-orang di lingkaran terdalam hidup saya. Betapa saya menyukai kisah ini, yang begitu simpel dengan ilustrasi yang sederhana pula. Mungkin saja, salah satu dari teman-teman saya akan ikut jatuh cinta.

Saya bermaksud menceritakan kisah luar biasa ini dengan cara saya sendiri, yaitu membacanya dengan perlahan, halaman per halaman. Penuturan tersebht merupakan interpretasi saya sendiri terhadap cerita, untuk memberikan pengalaman baru bagi saya dan pembaca. Oleh karena itu, saya mengunggah gambar per gambar dalam selingan waktu tertentu, sesuai dengan ritme yang berdentum di kepala saya, untuk membiarkan setiap halaman meresap di hati pembaca sebagaimana saya melihatnya.

Ternyata, teknik ini justru menyingkap keajaiban yang mendebarkan: setiap halaman memiliki napasnya sendiri. Masing-masingnya menghidupi cerita tersendiri, yang saya yakin juga relatable terhadap banyak orang. Hal ini terungkap saat beberapa stiker berdatangan terhadap halaman-halaman tertentu, yang menunjukkan di mana pembaca ikut bersedih, menahan napas berdebar, kaget, dan pada akhirnya menemukan harapan bagi The Missing Piece. (Dan protes mengapa hidupnya menjadi sedih kembali, hahaha.)

Satu hal yang membuat saya merasa terhormat adalah bahwa beberapa teman saya mengira bahwa cerita tersebut adalah karya saya pribadi. Terima kasih, ya, saya menganggapnya sebagai doa bahwa di kemudian hari saya juga akan menebarkan manfaat yang sama bagi dunia dengan hobi bercerita saya. Aamiin.

The Missing Piece Meets With The Big O sendiri adalah sebuah kisah yang diperkenalkan kepada saya pada saat saya merasa begitu tidak mampu melanjutkan hidup sendiri, merasa begitu menginginkan untuk dilengkapi. Hal pertama yang menyentil, tentu saja, adalah tantangan terhadap segala pandangan bahwa saya tidak mungkin utuh sampai Sang Pangeran datang. Membacanya kedua kali, saya merasa begitu seperti The Missing Piece yang sendiri, kecewa, berharap, kecewa lagi, mencari lagi, sampai suatu saat sebuah wahyu datang untuk belajar melepaskan harapan untuk digenapi oleh yang lain.

Saya yakin masing-masing pembaca mengambil maknanya sendiri, tetapi jelas sekali bahwa penulisnya ingin menyampaikan bahwa setiap orang mampu menjadi utuh secara mandiri, walau pun kita lebih sering tidak yakin. Ya, karena kita punya edges sendiri yang menghambat kita untuk menggelinding dengan lancar sepanjang lorong hidup.

Tetapi, lebih dalam dari itu, cerita ini menghubungkan saya dengan kenyataan bahwa, seperti The Missing Piece, kita sering kali harus melalui perjalanan yang panjang dengan ketidaknyamanan, dengan usaha yang terasa kurang, dengan tanda tanya yang semakin kita jauh berjalan semakin terasa tidak akan terjawab, sampai akhirnya suatu hari tersadarkan bahwa untuk menggelosor dengan santai, yang kita perlukan hanya maju. Bergerak.

Setelah itu, dengan sendirinya, secara perlahan, kita akan terbentuk dan menggelinding.

Saya menyelesaikan serial postingan di lini masa hari ini, tepat pada hari di mana The Missing Piece Meets The Big O pertama kali diterbitkan 35 tahun yang lalu (1981). Sebuah cerita yang datang kepada saya secara insidental, yang ternyata dirayakan hari ini secara insidental pula. Selamat ulang tahun, hei Kisah!

Ah, saya begitu merasa bersemangat setiap kali mengingat kejeniusan berkisah Shel Silverstein dalam cerita bersahaja ini. Dengan kalimat seringkas dan gambar sesederhana itu, audiens dapat merasa terhubung dengan The Missing Piece yang bahkan bukan manusia, bukan pula sebentuk hati yang terlunta-lunta.

Begitu sukanya saya dengan gabungan cerita-ilustrasi ini, saya harap penuturan tiga hari yang saya lakukan ini berhasil untuk membantu Sang Kisah membuat sarang-sarang baru di hati pembaca baru. Supaya hidup abadi dan turun-temurun, agar lebih banyak orang yang terinspirasi dan tersadarkan, bahwa semenjak kita lahir, kita telah utuh apa adanya. Tugas kitalah untuk mengasah dan menyempurnakan bentuknya.

Jadi, selamat menggelinding! And if we happen to cross paths, rolling: see you at the marathon!


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s