Memulai Kembali

Hai. Rasanya sudah berabad-abad membiarkan sisi kehidupan yang ini tak terjamah di pojokan. Tulisan yang ini ibarat meniup debu dan menebas jaring laba-laba di berbagai sudut. Sesekali saya terbatuk, saking kotor dan berdebu. Hm.

Jangankan blog ini, Miu, ponsel tempat saya bercerita, pun baru kemarin mulai saya ajak bercerita lagi. Saya masih belum bisa menempatkan, atau menyortir dalam pikiran, apakah ketidakmampuan saya untuk menceritakan berbagai hal disebabkan oleh begitu banyaknya hal yang terjadi dan berubah dalam hidup pribadi saya. Lebih tepatnya, apakah ketidakmampuan saya untuk merasa disebabkan oleh kemampuan saya yang meningkat untuk beraksi. Seburuk itukah kemampuan multi-tasking saya?

Tahun ini merupakan tahun yang tepat untuk saya untuk beraksi, to do. Saya telah mengatakan beberapa kali dalam status media sosial saya yang lainnya bahwa tahun ini bukanlah tahun untuk bersedih (yang bagi saya adalah untuk merasa), tetapi untuk menjadi hidup. Dan sejujurnya, saya masih merasa demikian sampai hari ini. Saya akan menganggap tulisan ini sebagai usaha saya mengimbangi keduanya.

Saya merasa terlalu sibuk beraksi sampai lupa berpikir dan merasa. Kedua hal tersebut sebenarnya merupakan skill yang saya banggakan, tetapi mulai terlupakan. Dan dengan saya mencoba kembali ke sudut berbagi ini, mudah-mudahan saya akan mulai mengingat kembali.

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, sangat banyak perubahan hidup yang terjadi. Menjadi lebih ringan untuk beraksi hanyalah salah satunya, disebabkan oleh rangkaian peristiwa kebangkitan. Mungkin jika dibandingkan dengan lini masa sejarah, saat ini adalah Zaman Renaissance dalam hidup saya. Dan rasanya sungguh baik. Winter Lily sudah tidak terasa nuansanya. Gerimis berkepanjangan sudah digantikan musim panas yang menyenangkan (yang menyenangkan, ya, bukan yang menyebabkan kebakaran). Saya merasa… menang.

Apakah Anda mengerti, bahwa seseorang akan merasa menang setelah sebelumnya pernah merasa kalah? Kemenangan hanya berarti setelah kematian berkali-kali. Tanpanya, kemenangan tidak bermakna. Oleh karena itu, saya merasa sungguh bersyukur, karena gerimis kronis membuat saya bisa menghargai matahari dengan lebih baik. Sepertinya, kemiskinan akan membuat seseorang benar-benar menghargai harta yang dicapai. Semoga saja apresiasi ini tidak berlangsung berlebihan dan berbalik membuat saya menjadi tamak kebahagiaan. After all, seperti duit, semakin banyak yang kita punya, semakin banyak yang harus kita berikan.

Semoga hati saya bisa segera dibersihkan. Semoga saya selalu ingat dalam hati saya, bahwa seseorang yang pernah kekurangan cahaya harus selalu dengan ringan hati membagi kembali sedikit yang didapatkan. Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s