Untuk Elemen-elemenku: Sebuah Surat Cinta

Hai, Kalian. Ini Aku.
Aku yakin kalian pasti tau sudah berapa karya-karya dan surat-surat yang kutulis untuk kalian. Tapi baru kali ini Aku merasa dunia harus mengetahui sebanyak apa aku rindu dengan Kalian, melalui surat ini.

Aku sering dengan lancang merencanakan masa depan kita, seperti apa aku mengharapkan kalian untuk tumbuh dan berkembang, dan ke mana kalian akan menjejak di Bumi ini. Maaf, ya. Semoga saat Aku mengatakan bahwa harapan-harapan tersebut tidak termasuk apa profesi yang akan kalian tekuni dan dengan orang seperti apa kalian harus menikah, Kalian menganggapnya sebagai kabar baik. Karena, sungguh, Aku tidak akan mengatur itu semua untuk Kalian. Anak-anakku bebas memilih, dan tentu saja Tuhan yang menentukan apakah pilihanmu sama dengan pilihan-Nya.

Harapanku terhadap kalian tidak materialistis. Aku hanya ingin Kalian tumbuh menjadi agen kebaikan, agen manfaat, dan penduduk Bumi yang damai jiwanya, yang akan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih menyenangkan untuk ditinggali. Selain itu, tentu saja Aku ingin Kalian menjadi anak-anak yang cerdas. Lebih tinggi lagi, Aku mengharapkan Kalian akan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, supaya kalian selalu ingat bahwa tidak ada hal yang akan menguatkanmu seperti saat kamu ikhlas. Tentu saja, ada Yang Maha Pemberi Izin yang akan menempa kalian untuk bisa ikhlas seutuhnya. Aku pun belum bisa seperti itu, tapi pernah ada saat-saat aku bisa merasakan betapa besarnya kekuatan ikhlas itu.

Hai, Kalian. Aku jadi mengirimi surat terbuka untuk kalian karena temanku yang memberi ide untuk itu. Dia bilang dia melakukan proyek untuk memberi tahu anak-anaknya tentang persiapannya menyambut mereka ke dunia. Jadi, aku juga memutuskan untuk menulis ini untuk kalian, dan entah kenapa Aku merasa dunia harus tau. Tebakanku, sih, karena Aku ingin Mereka jadi saksi bahwa aku tidak bohong bahwa aku merindukan kalian, bahkan bertahun-tahun sebelum hari ini. Supaya suatu saat kalian jatuh, kalian ingat bahwa eksistensi kalian adalah suatu keajaiban. Semoga itu membantu.

Omong-omong, aku juga punya persiapan yang sama mengasyikkannya untuk pantas menjadi ibu kalian. Aku sedang mencoba untuk berbahagia setiap harinya. Hari ini ada dua orang kunyuk yang secara tidak langsung bilang bahwa aku bodoh melakukan hal ini, karena hidup itu tidak selalu bahagia. Andaikan mereka tau, Nak, bahwa kalau bencana bisa terjadi setiap hari selama 7 tahun belakangan ini, kenapa kebahagiaan tidak bisa diusahakan seperti itu? Aku tidak bilang bahwa hidup bisa terus-menerus bahagia, yang ingin aku sampaikan kepada dunia adalah dengan mencoba melihat sisi baik segala hal yang terjadi di tiap hari aku akan menjadi lebih bahagia. Kata orang badai pasti berlalu, tapi jika sudah terlalu lama aku harus bersembunyi di ruang bawah tanah untuk berlindung dari badai, maka aku akan mati dalam keadaan kalah. Jadi, aku memutuskan untuk mengundang matahari datang ke hidupku. Bodohkah aku?

Aku pikir tidak. Aku hanya berjuang untuk Kalian. Kalian harus tau bahwa persiapan ini aku mulai karena tiga alasan, dan tiga alasan itu adalah Aku, Kalian, dan Dia. Tidak dalam order tersebut, karena aku belum menentukannya lebih jauh. Dia adalah ayahmu; aku sangat-sangat menanti kehadirannya. Agar aku bisa segera bertemu Kalian, karena Kalian adalah pusat semestaku. Aku ingin saat hadir di Bumi, kalian tidak memiliki ibu yang membawa lubang di hati. Aku ingin menjadi ibu yang menyayangi dirinya dengan baik, dan suaminya, agar anak-anaknya bisa ia cintai dengan baik dan tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang. Aku tidak ingin rantai itu terulang lagi. Jadi, aku harus bahagia. Aku harus berjuang untuk menyayangi diriku dengan utuh. Doakan Aku, ya.

Soal ayahmu, aku yakin dia juga sedang mempersiapkan keluarga kita. Saking sibuknya dia belum sempat pulang ke rumah, kepada Aku. Pada masa-masa tertentu aku pikir Dia tidak akan meminta kembali tulang rusuknya, tapi sekarang aku yakin itu hanya karena Aku tidak sabaran. Semoga Kalian juga bersabar, ya. Dunia ini tempat yang baik untuk belajar, untuk menyayangi di tengah-tengah kebencian. Jika Kalian mampu bertahan di bawah badai, maka Kalian pasti tidak akan kesulitan mandi di ujung pelangi. Intinya, walau pun bertahan di dunia ini tidak gampang pada saat-saat tertentu, kalian pasti bisa melaluinya dan, ya itu, mandi dengan sangat tenang di ujung pelangi. Tidak semua orang bisa begitu.

Selain itu, persiapanku ini agar aku bisa menerima cinta seperti jendela yang dengan selebar-lebarnya menerima cahaya matahari di musim panas. Itu penting, menurutku, agar aku bisa memberikannya kembali pada Kalian dan orang-orang lain seperti cahaya matahari itu sendiri. Selama ini aku selalu menolak cinta yang datang padaku, dalam hal sekecil apa pun. Itu bukan hal yang baik. Aku tidak ingin Kalian terjebak di ruang yang sama. Makanya, persiapan ini penting. Aku harap Kalian sekarang sadar betapa dinantinya kehadiran kalian. Dan ayahmu, juga.

Doakan Aku, ya. Semoga secepatnya Dia kembali ke rumah, supaya Kita bisa tumbuh bersama sedari muda, berjuang untuk Yang Maha Mempertemukan, berjuang untuk bumi-Nya.

Aku berencana berkeliling dunia dengan Dia. Kalau Kalian sudah lahir pun Kalian harus Kita ajak. Aku ingin kalian melihat betapa banyak hal menarik di dunia ini, terutama kebaikan, cerita, dan kepribadian. Aku harap hal-hal seperti itu akan membuat kalian semakin merunduk saat kalian tumbuh semakin matang.

Tidak sabar menantikan kalian,
Ibumu yang rindu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s