Di Kaki Himalaya

Danau Saiful Malook di Lembah Naran-Kaghan, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan

Danau Saiful Malook di Lembah Naran-Kaghan, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan


Salah satu impian terbesar saya adalah menginjakkan kaki di Koridor Wakhan, Afghanistan. Koridor Wakhan ini adalah dataran tertinggi di dunia yang dijadikan area tinggal oleh orang-orang Kirgis, merentang sepanjang 220 km di bagian Afghanistan Utara. Bayangkan hidup di daerah yang selalu dingin dan selalu bersalju sepanjang tahun, kecuali di bulan-bulan tertentu. Hanya orang-orang kuat yang dilahirkan di situ.

Tetapi, tanpa saya sadari, musim panas tahun 2013 lalu saya mengunjungi tempat yang mirip Koridor Wakhan, dari kontur geografinya, jenis binatangnya, dan mungkin udaranya. Tempat yang paling luar biasa yang sejauh ini berhasil saya jejak tanahnya: Naran-Kaghan Valley, Pakistan.

Di jari kelingkingnya Pegunungan Himalaya ini, tepatnya di daerah Danau Saiful Malook, penduduknya tinggal di daerah yang dingin sepanjang tahun. Rumah-rumah mereka disusun dari batu-batu gepeng berbentuk segi empat yang ditumpuk satu di atas yang lain, dan membentuk sebuah bangunan yang kotak dan cukup hangat untuk ditinggali di musim panas, tetapi tidak untuk menghadapi musim dingin. Rumah-rumah tersebut di letakkan tepat di sisi gunung-gunung, dan saling berdekatan satu sama lain agar lebih hangat. Di musim dingin, mereka turun ke bawah dan meninggalkan rumah-rumah mereka untuk sementara.

Waktu saya ke Danau Saiful Malook, saya dan teman-teman (di mana salah duanya merupakan pribumi Pakistan) didampingi oleh pihak polisi yang membawa senapan dan juga pemilik-pemilik kuda. Kami berangkat menuju base camp dengan menunggangi kuda-kuda yang menjadi alat transportasi penduduk daerah danau karena jarak yang cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Pemilik-pemilik kuda tersebut beragam usianya, ada yang sudah sepuh, cukup dewasa, sampai anak-anak berusia belasan tahun. Mereka hanya menggantungkan nasib di pekerjaan tersebut, jadi ngga mengherankan kalau saat kami datang dan bilang akan jalan kaki saja ke base camp mereka terlihat marah dan memaksa untuk naik kuda. Karena kami tamu, kami memutuskan untuk naik kuda saja.

Penduduk lokal di daerah Danau, turun ke bawah setiap musim dingin datang

Penduduk lokal di daerah Danau, turun ke bawah setiap musim dingin datang

 

Ternyata alamnya mirip dengan Koridor Wakhan

Ternyata alamnya mirip dengan Koridor Wakhan

Pawang kuda yang saya tunggangi kebetulan yang sudah tua dan cukup baik dan ramah. Beliau ngga bisa berbahasa Inggris sama sekali–mungkin juga hanya bisa sedikit bahasa nasional Pakistan, tapi selalu berusaha mengajak saya ngobrol. Teman-teman saya yang lain juga dijaga oleh pawang masing-masing. Tapi, tidak hanya para pawang kuda saja yang ikut, ternyata ada beberapa penduduk lain dan tiga orang polisi yang ikut mengiringi kami. Jadi, ramai sekali waktu itu, padahal awalnya kami hanya sekitar sepuluh orang.

Selama perjalanan ke base camp para pengiring kami pun terlihat menikmati dan banyak bercakap-cakap dengan kami, walau pun saling tidak mengerti maksud satu sama lain. Pawang kuda saya baik sekali, karena selalu menunjukkan hal-hal menarik ke saya, salah satunya salju yang mengering di kaki gunungnya, bahkan menawarkan untuk mendekat ke sana. Teman-teman saya kebanyakan dari etnis Tionghoa juga dengan ributnya berceloteh dan foto-foto, sedangkan saya sih hanya diam saja menghayati suasana yang seperti mimpi. Ternyata, setelah saya nonton di YouTube tentang ekspedisi ke Koridor Wakhan, alamnya mirip dengan Danau Saiful Malook. Saya jadi makin merasa pengalaman ini seperti mimpi…

Singkat cerita, kami akhirnya sampai di base camp setelah dua jam perjalanan dengan kuda. Kami beristirahat dan menghabiskan waktu di samping glasier, karena selain glasier tidak ada lagi yang bisa dikunjungi. Sambil foto-foto, ternyata Thanh Thanh, teman saya dari Vietnam, sedang menceritakan hal-hal aneh terkait dengan para pawang kuda. Ia bercerita bahwa pawang kudanya yang masih remaja beberapa kali mengambil kesempatan mencolek pinggul dan pantatnya dan ia merasa sangat dilecehkan. Selain itu, teman yang lain bercerita bahwa polisi yang jalan di sampingnya beberapa kali menawarkan untuk menembak dari senapan yang ia bawa sambil cengengesan. Tentu saja kami merasa hal-hal tersebut tidak lazim, tapi mau bagaimana lagi, kami masih harus balik pulang dengan orang-orang tersebut.

Selesai mandi di glasier

Selesai mandi di glasier

Pawang kuda saya dan polisi pendamping

Pawang kuda saya dan polisi pendamping

Sambil menunggu yang lain kelelahan, saya dan Charles (pribumi Pakistan), mencoba bermain salju di seberang glasier, sehingga kami dengan cueknya menyeberangi glasier dengan kaki telanjang dan berkali-kali hampir kecebur. Airnya dingiiin sekali, sampai-sampai kaki saya mati rasa, dan membuat usaha penyeberangan ini jadi lebih sulit. Jauh di sebelah kiri saya, teman-teman dan para pengiring yang lain sedang melakukan aktivitasnya sendiri. Anak-anak lokal berenang di air yang dingin, teman-teman saya foto-foto dan berbaring di batu, dan tiba-tiba…

DOR! Saya terdiam.

DOR! Saya menengok ke arah kiri. Para polisi sedang berpesta tembak senapan ke arah salju yang sedang saya coba hampiri. Saya langsung melihat ke Charles dan bertanya apakah melanjutkan perjalanan itu masih ide yang baik atau tidak. Charles bilang, tidak apa-apa. Hm. Saya berpikir dan merasa takut kena peluru nyasar. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin ada baiknya percaya sama Charles. Terus, saya tanya ke dia, kira-kira mungkin ngga mereka salah menembak ke kita, dia bilang mungkin. Entah apa yang saya rasakan waktu itu, tapi saya tetap melanjutkan penyeberangan. Dan, setelah merindukan main di salju dan perjuangan yang cukup berat, kami akhirnya main di salju dengan telanjang kaki. Gila. Kami menemukan selosong peluru kosong di salju tersebut, bekas tembakan para polisi barusan. Ternyata, mereka memang menembak ke arah sini, bikin bulu kuduk saya merinding.

Setelah cukup puas main-main di pinggir glasier, kami turun ke bawah dan menghabiskan waktu kira-kira sama dengan saat kami naik. Sesampainya di tempat Jeep kami parkir, Wasma (pribumi Pakistan) cerita bahwa ada seorang remaja di antara para pendamping kami yang merayunya terus-menerus, bilang, “Hai wanita, jangan pulang. Di sini aja sama saya, kita bisa menikah… Ya ngga? Jangan pulang ya, nikah aja sama saya.” Beberapa detik setelah ia menceritakan itu, kami tiba-tiba dikerubungi para pendamping kami, dan mereka meminta dibayar karena telah ‘menjaga’ kami selama naik… Ternyata sama ya kaya di Indonesia. Bedanya, orang Pakistan lebih konfrontatif, sehingga yang minta dibayar gigih menagih dan yang ogah membayar gigih menolak. Mereka akhirnya teriak-teriakan berdebat. Ujung-ujungnya, Wasma lari ke Jeep (di mana kami sudah menunggu ingin cepat-cepat pulang karena merasa keamanan kami terancam), dan bilang ke sopir untuk ngebut turun. Sementara itu, teman saya Valerio yang orang Itali mengatakan para polisi yang membawa senapan tadi sudah melihat ke arah kami dengan tatapan mengancam, dengan senapan masih di tangan. Beberapa saat kemudian Wasma bilang ke kami bahwa dalam perjalanan pulang dari base camp tadi salah seorang polisi berbisik ke dia, bilang sesuatu seperti, “Mereka semua orang luar negeri? Hm, sepertinya enak kalau dibunuh…” Hiiiy.

It was a good day to be alive

It was a good day to be alive

Selama perjalanan Valerio bilang bahwa ada orang-orang lokal yang tinggal di atas yang mengikuti kita. Tapi, setelah dilihat tidak ada orang-orang yang dimaksud. Tetap aja kami panik. Di tengah itu, karena kesialan yang satu biasanya diikuti dengan yang lain, Jeep kami mogok. Valerio semakin stres, dan saya setengah mati nahan ketawa melihatnya. Perasaan saya saat itu campur-campur, antara takut ditembak mati dan ingin ketawa melihat teman saya yang cemas sampai delusional. Di tengah-tengan itu semua, Wasma menyarankan saya untuk membaca dua kalimat syahadat saja, kalau-kalau sesuatu terjadi. Hm…

Singkat cerita, kami sampai di penginapan dan hari esok tiba.

Yang menarik dari orang-orang Naran-Kaghan ini adalah mereka selalu curiga pada setiap turis asing dan domestik yang datang. Sebenarnya, di daerah utara Pakistan mana pun hal ini terjadi, dan berita-berita mengenai ketidaksukaan mereka pada manusia lain sering ada di media. Contohnya, penembakan para pendaki K2 yang berkebangsaan Slovakia, China, dan Amerika beberapa bulan sebelum saya datang ke Pakistan. Di daerah utara Pakistan bukan hal yang aneh jika kita selalu melihat seorang lelaki memegang senapan, padahal di daerah tengah ke selatan yang diizinkan memegang hanya tentara saja. Hal ini adalah bukti bahwa mereka memang menutup dan melindungi diri dari ancaman dunia luar.

Saat sarapan saya berbincang-bincang dengan Charles mengenai watak para Pakistani yang selalu curiga dan menyeramkan terhadap para pendatang. Saya mengutarakan bahwa Pakistan adalah negara yang indah, hanya saja orang-orangnya terlalu menyebalkan dan menakutkan untuk membuat kami betah. Saya merasa reaksi saya wajar ketika itu karena setelah hampir di penjara di trip sebelumnya dan tertembak di hari kemarinnya, saya merasa terancam berada di Pakistan. Saya selalu mengeluh pada Charles mengenai orang-orang Pakistan yang terlalu tertutup dan membentengi diri sebelum mengenal bahwa turis-turis seperti kami hanya ingin mengenal mereka lebih jauh. Lalu, Charles membalas keluhan-keluhan saya dengan alasan yang masuk akal dan manusiawi (yang bikin saya malu karena tidak pernah terpikirkan oleh saya):

“Dina, sekarang saya pikir kamu tidak adil menilai mereka sedemikian buruk hanya karena beberapa hal buruk menimpa kamu selama beberapa minggu kamu tinggal di sini, di tanah orang lain. Coba bayangkan hidup mereka, terutama yang di daerah utara. Berapa banyak keluarga mereka yang mati kena bom dan pesawat-pesawat perang Amerika yang dikendalikan otomatis? Berapa sering mereka merasa terancam di rumah mereka sendiri, tidak aman, di tanah kelahiran mereka sendiri? Orang-orang yang kemarin kamu temui, dan kebanyakan dari mereka, sudah merasakan kehilangan rumah, tempat tinggal, dan keluarga mereka, hanya karena perang-perang bodoh yang saya pun sekarang tidak mengerti apa yang sebenarnya diperjuangkan.

Bagi saya, reaksi mereka sangat-sangat wajar kalau mereka selalu melindungi diri, melengkapi diri dengan senapan dan ingin menembak mati orang-orang yang membuat mereka merasa terancam. Coba bayangkan apa yang bisa mereka lakukan setelah kehilangan-kehilangan tersebut, dengan pendidikan yang tidak cukup untuk tahu cara lain agar bisa bertahan hidup? Saya rasa kamu sangat tidak adil menilai mereka seperti itu tanpa mempertimbangkan apa yang telah mereka lalui, dibandingkan dengan apa yang telah kamu lalui.”

Setelah itu, dengan jawaban seperti itu, saya hanya bisa diam selama perjalanan pulang dengan rasa bersalah yang sulit dibuang.

Sampai berjumpa di lain waktu, Naran-Kaghan

Sampai berjumpa di lain waktu, Naran-Kaghan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s