Happiness Project: Love Yourself

Hai, Jiwa yang Baik. Sudah lama sekali tidak berbagi di sini. Banyak alasannya, salah satunya kuliah, KKN, liburan yang keterusan, dan pikiran yang semrawut sampai ngga bisa ditarik ujungnya buat ditulis dan dikasih lihat ke khalayak. Tapi, sekarang saya di sini, kembali untuk berbagi. Sharing is caring ­čÖé

Akhir-akhir ini banyak sekali pencerahan yang berdatangan, kabut-kabut mulai tersingkap, dan setiap hari, di waktu kapan pun, tiba-tiba suka ada aja momen aha erlebniz. Salah satu kabar terbaru yang bisa saya bagi adalah sebuah proyek pribadi yang sedang saya tekuni, dijalani hari ke hari. Sebuah proyek kebahagiaan yang namanya gampang diingat: Happiness Project: Love Yourself.

Apa sih proyek kebahagiaan ini?
Tentu aja, ini proyek untuk berbahagia di tiap harinya. Untuk yang tidak bahagia, proyek ini bisa jadi batu loncatan untuk mencoba berbahagia (yang semoga keterusan). Untuk yang sudah bahagia, proyek ini bisa jadi usaha untuk mempertahankan kebahagiaan itu.

Kenapa harus menjalani proyek kebahagiaan ini?
For one thing, saya banyak bolos menulis karena berada dalam tempat yang tidak membahagiakan. Benang kusut yang ada disebabkan oleh ketidakbahagiaan yang saya rasakan, walau pun kata orang terkadang ketidakbahagiaan justru yang membuat orang menulis. Hm, tapi untuk periode kemarin, yang sebaliknya justru terjadi pada saya. Untuk orang yang tidak bahagia (dan merasa lorong ketidakbahagiaan itu ngga ada ujungnya), sulit sekali untuk merangkak keluar dan menarik napas lega. Untuk yang menunggu (karena percaya badai pasti berlalu), kebahagiaan lama sekali datangnya. Jadi, saya coba jemput saja kebahagiaan itu.

Kenapa berpikir bisa berbahagia dengan “Love Yourself”?
Setelah bertapa panjang di goa pikiran saya, terbitlah┬ásatu kesimpulan: I don’t like myself enough to start with.┬áPada waktu-waktu tertentu, bahkan, menolak diri sendiri.┬áBaru beberapa waktu belakangan ini saya merasa bahwa berbagi kebahagiaan, paling utama ya dengan diri sendiri. Kalau tidak menerima diri sendiri, gimana mau berbagi kebahagiaan dengan diri sendiri? Gitulah kira-kira. Selain itu, penolakan terhadap diri sendiri juga bisa berarti ngga ikhlas menerima jalan hidup yang sudah ditentukan, jadinya dari pada menunggu saat itu tiba (dan tidak kunjung datang), ya belajar ikhlasnya dari menyayangi diri sendiri dulu.

Untuk orang-orang yang berada di posisi sama dengan saya, proses menerima diri sendiri itu tidak mudah, lho. Makanya harus ada pengingat setiap hari. Setelah mengingatkan diri sendiri per harinya mengapa Si Aku ini pantas disayang, mudah-mudahan rasa sayang itu timbul secara otomatis tiap detik tiap jam tiap hari tanpa harus diingatkan lagi.

Sebenarnya inti dari proyek ini adalah bagaimana kita bisa mensyukuri dan ikhlas terhadap diri sendiri. Setelah batu yang paling besar dan keras itu dipindahkan, dikikis, dibentuk jadi lebih indah, inshaa Allah jalan untuk menyayangi orang lain lebih lancar. Because I always remember that if the rocky roads never end, if you tried anything and everything else and they still go on, maybe you forgot one thing, and that one thing is to drag the happy you along.

And for a person like me whose happy me is somewhere far away in the past, I think it’s a wise thing to let her hop back on board simply by opening up the gates to myself again. I believe that the happy me brings along my sunshine, the lights that radiate.

Semoga terinspirasi untuk berbahagia juga, ya.

Jangan lupa untuk saling mengingatkan.

Semoga beruntung, Jiwa yang Baik.

#happinessproject #loveyourself

Let’s go to our happy land,
Indiena

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s