Teh Hangat Tawar

Aku dapat melihatnya tergopoh-gopoh menuju tempat ini dari jendela. Tempat dudukku yang di samping jendela menghadap jalan sangat membantuku mengamati jalanan. Sepi sekali hari ini, seperti biasanya. Tetapi sebentar lagi tempat ini tidak akan sunyi lagi, dia sedang berjalan kemari. Aku menahan senyum yang tidak boleh aku perlihatkan, dia tidak boleh tahu aku gugup menunggunya dua puluh menit terakhir. Aku kulum bibirku, tetapi sudut-sudutnya bandel tertarik ke belakang.

Pintu terbuka, sedikit berderit. Mata cerahnya langsung menatapku saat kakinya menapak di rumah kopi ini. Senyumnya lebar, matanya bersinar, ekspresinya membuatku berdebar. Dia berjalan ke arahku dengan langkahnya yang santai, punggungnya yang sedikit bungkuk, dan matanya yang melihat ke mana pun kecuali ke arahku. Aku terbiasa dengan kecanggungannya menatap siapa pun terlalu lama. Dia tidak pernah menjelaskan mengapa, tetapi aku mengenalnya dengan baik dan aku bisa percaya diri menebak mengapa. Dia terlalu takut dunia di dalam dirinya mencuat keluar dan perjalanan hidupnya akan terputar di pikiran siapa pun yang menatapnya. Lalu dia akan merasa sungguh telanjang dan malu. Dan dia tidak bisa mengambil risiko itu karena dia sangat pemalu.

Bruk. Dia menjatuhkan badannya ke kursi di seberangku. Matanya tetap cerah, tetapi senyumnya menyempit walaupun tetap tenang dan terkontrol. Dia tidak seperti biasanya. Selain rambutnya yang kecoklatan dengan poni yang selalu menyamping, tubuhnya yang tinggi kurus, punggungnya yang selalu sedikit bungkuk, serta matanya yang tidak pernah menatapku, dia tidak seperti biasanya. Ada perasaan tergores di dalam hatiku. Seperti dia telah hilang dan tidak kembali.

“Kenapa?” Aku bertanya, sesingkat itu.

Dia pun menjawab dengan ekspresi mata yang menatap sesuatu yang jauh ke depan, entah di ruang atau waktu yang mana, walaupun masih tetap tidak menatapku. Dia menjawab sesingkat itu.

Aku masih menunggu dia berbicara. Sungguh kangen aku dengan obrolan-obrolan kami yang menyenangkan sejak pertama kita bertemu. Memang tidak ada yang luar biasa dengan pertemuan perdana kami di sebuah pusat perbelanjaan di suatu hari Rabu dua tahun yang lalu. Aku datang bersama temanku yang juga temannya. Kita pergi bertiga karena teman tersebut tiba-tiba ingin pergi dengan kami dalam waktu yang sama. Sesingkat itu alasan pertemuan kami. Tidak ada jabatan tangan dan tidak ada sebut-menyebut nama; dia tidak pernah berkenalan seperti itu. Dia pemalu. Sungguh sangat pemalu sampai tidak nyaman dengan perkenalan formal. Dia lebih suka menyelusup di antara percakapan dan menunjukkan keramahannya. Dan itu yang terjadi denganku dan dia.

Namun, siapa sangka, aku dan dia, tanpa perkenalan, tanpa jabatan tangan, tanpa menyebut nama, kami menyenangi kehadiran satu sama lain. Padahal aku tidak suka cara “berkenalan”nya yang sombong, dan dia tidak menyukaiku yang terlalu ramah hingga banyak omong.

Berbulan-bulan berikutnya dia berubah menjadi temanku berbincang. Lebih tepatnya, temanku yang mendengarkan. Entah daya tarik apa yang membuatku ingin menariknya ke dalam keramaian duniaku. Aku merasa dirinya terlalu tertata, terkontrol, terlalu sunyi dan diam.

“Kamu tidak tahu saja, Kuni. Kamu berpikir hidupku sepi, otakku sepi, hatiku sepi, hanya karena aku tidak suka berbicara atau menyampaikan pendapat. Di dalam diriku, asal kamu tahu, Kuni, sungguh ramai. Ada banyak orang yang berbincang, berpendapat, bertengkar, bergejolak, menghina satu sama lain, dan mereka semua, walaupun berbeda, sama-sama menyenangi teh hangat tawar. Kamu tahu, Kuni, aku berbicara lebih keras di dalam kepalaku dari pada di dunia luar. Kamu tidak perlu repot-repot mengenalkanku pada teman-temanmu, aku tidak peduli sedikit pun dengan mereka. Terima kasih,” katanya suatu hari. Aku hanya menyeringai saat mendengarnya. Apa yang dikatakannya konyol sekali. Tetapi sejujurnya itu terdengar mengagumkan.

Walaupun dia sombong sekali, walaupun dia pemalu sekali, walaupun dia pendiam sekali, tetapi kehadirannya sangat menyenangkan. Dia bukan orang luar biasa dengan pendapat yang tidak biasa—dia biasa-biasa saja. Tetapi dia sungguh menyenangkan. Dia tetap jarang bicara di setiap pertemuan kami, tetapi rasanya ramai saat dia mendengarkan. Sungguh ekspresif matanya, membuatku semangat bercerita. Mengobrolkan ini, itu, masa lalu, masa depan, apa yang terjadi kemarin, apa yang aku lihat di berita, apa yang baik untuk ini, apa yang menyenangkan dalam itu. Segalanya.

Namun, hari ini berbeda. Kedatangannya membuatku merasa sangat sunyi. Mencekam, bahkan. Seolah tiba-tiba jalanan menjadi lebih sepi dari pada biasanya. Seakan dunia ini adalah gelembung sabun yang seluruh dindingnya dilapisi karpet peredam suara. Dan, sungguh menyebalkan, pertanyaanku hanya dijawab dengan ekspresi mata yang bahkan tidak menatapku.

Sudah tujuh menit aku diam menatapnya, dan selama itu dia menatap ke luar, bola matanya bergerak cepat seperti berpikir. Di menit kedelapan, matanya menembus bola mataku, dua detik, lalu dia menatap sudut piringan cangkir kopiku dan mulai bersuara, “Ehm.”

Dan tiga menit berlalu lagi tanpa lanjutan. Saat teh hangat tawarnya datang, dia buru-buru menyeruput sedikit, dan berkata, “Aku akan pindah. Tolong jangan marah. Aku sedikit lelah.”

Aku bergidik dengan kalimat-kalimatnya yang berima. Aku menjadi tidak sabar dan mengentak-entakkan kakiku menunggu sambungan kata-katanya.

“Kamu mau tahu kenapa aku tidak nyaman bertatapan mata dengan orang-orang?” Dia menawarkan jawaban suatu misteri, tentu saja aku terima. “Tapi kamu jangan marah karena aku pindah.”

Tidak.

“Oke. Sejujurnya, aku sangat tidak nyaman menatap seseorang tepat di bola matanya karena aku sangat lemah terhadap perasaan kasihan. Aku… mungkin sedikit bisa merasakan apa pun yang mereka sembunyikan. Konyol kalau aku bilang aku bisa melihat seluruh hidupnya berputar di depan mataku, tentu saja tidak. Tetapi rasanya aku akan ingin menemaninya, mendengarkannya, menjadi selalu ada untuknya. Aku tidak bisa, Kuni, melakukan itu semua untuk semua orang yang kutatap. Aku tidak pandai berteman, aku tidak suka perkenalan, aku tidak nyaman dengan banyak teman. Kuni, aku memang terdengar aneh, tetapi mata adalah jendela dunia. Aku tidak siap memasuki dunia seseorang melalui jalur itu, itu tidak sopan.

“Pengalaman, kesakitan, kebahagiaan, dan pelajaran hidup seseorang adalah sesuatu yang privat, yang seharusnya tidak dibagi secara gamblang pada siapa pun. Kebijaksanaan mereka akan hilang saat mereka menceritakan semuanya secara detil, karena hidup ini indah saat sudut-sudut gelap tidak pernah tersingkap. Seseorang menjadi menarik karena dia membuat orang lain penasaran. Saat dia membeberkan semuanya, itu tidak membuat kita tertarik. Dan aku rasa setiap orang pantas untuk menyimpan semua misteri bola mata mereka. Menatap mereka dengan benar bukanlah perbuatan yang santun. Itu tidak sopan, Kuni.”

Jujur saja, aku tidak paham jalan pikirannya. Tetapi aku mengerti, dia menjadi menarik karena dia tidak pernah menjelaskan apa pun. Dia memang sungguh menarik, tetapi mungkin karena aku adalah temannya; paham akan eksistensinya. Aku selalu berpikir aku tidak akan pernah sadar akan kehadirannya jika saja kita tidak saling mengenal. Perasaan kesalku karena ketiba-tibaannya pindah berubah menjadi sedikit kerelaan karena satu rahasia sudah terjawab. Ketertarikan aku padanya tidak berkurang sedikitpun, mungkin teori yang dia ciptakan salah.

“Kuni, sampai jumpa lagi.” Senyumnya melebar kembali, matanya tetap cerah. Dia mengangkat tubuhnya, menjabat tanganku, dan keluar dari tempat ini. Pintu berderit, lalu berdebam menutup.

Aku terpaku, merasa sedih kehilangan pendengar terbaikku, teman dengan mata paling ekspresif, walaupun wajahnya datar seperti papan. Aku sedikit syok melihat dua tahun pertemanan kita diakhiri dengan jabatan tangan yang terlalu singkat. Aku menginginkan pelukan…

Tiba-tiba, teleponku berdering. Aku mengangkatnya sambil menatap punggung temanku yang sialan itu menjauh melalui kaca jendela.

“Kuni,” suara di seberang terengah-engah.

Aku menjawab, “Ya,” sambil tetap mengikuti punggung temanku yang sombong itu. Dia berbalik badan tiba-tiba dan memberiku lambaian tangan. Aku mendapatkan lambaian tangan dari si konyol itu, sungguh luar biasa.

Orang di seberang telepon menjelaskan serentet kejadian dan kata-kata dengan penuh emosi dan ledakan tangisan. Aku mendengarkan dengan penuh hati-hati, mulanya. Lama-lama ekspresiku memancarkan tragedi.

Tiba-tiba tanganku tak dapat menggenggam lagi. Mataku masih menatap punggungnya yang semakin jauh. Telepon genggamku lalu terjatuh. Hatiku langsung rapuh. Punggung temanku yang menyebalkan itu tiba-tiba hilang di tengah jalan, di depan mataku yang masih mengawasinya, begitu saja dengan tidak mungkinnya.

Aku menangis satu setengah jam di kursi itu. Di seberangku masih ada sisa wajahnya yang tidak mau menghadapku. Masih ada punggung bungkuknya yang malu-malu.

Aku tidak bisa berhenti menangis, apalagi saat aku sadar dia tidak akan pernah mendengarkanku lagi. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi, tidak mampu mengeluarkan kata apa pun lagi.

Jadi, dengan lemah, aku balas saja lambaian tangannya tadi.

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s